Detikacehnews.id | Bireuen - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, diduga berasal dari menu bakso yang menjadi bagian dari paket Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, setiap siswa menerima empat butir bakso kering yang dibungkus menggunakan plastik bening dalam paket MBG yang dibagikan pada Kamis (26/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Paket makanan tersebut direncanakan sebagai konsumsi untuk tiga hari ke depan.
Selain bakso, paket MBG juga berisi kerupuk tempe, dua butir telur, tiga butir kurma, satu buah jeruk, tiga potong roti, satu bungkus jeli, serta satu kotak susu UHT berperisa ukuran 250 gram.
Namun, dugaan awal mengarah pada bakso sebagai sumber utama keracunan, setelah banyak siswa mengalami gejala serupa beberapa saat setelah mengonsumsi makanan tersebut saat berbuka puasa.
Kamis malam, suasana di Kecamatan Simpang Mamplam mendadak berubah panik ketika anak-anak mulai mengalami muntah-muntah dan kondisi tubuh melemah tidak lama setelah berbuka puasa.
Orang tua yang khawatir segera membawa anak-anak mereka ke fasilitas kesehatan terdekat. Dalam waktu singkat, Puskesmas Simpang Mamplam dipenuhi pasien anak dari berbagai desa di kecamatan tersebut.
Mayoritas pasien merupakan murid taman kanak-kanak dan siswa sekolah dasar yang sebelumnya menerima paket MBG pada sore harinya.
Hingga pukul 23.00 WIB, jumlah pasien terus bertambah. Tenaga medis dilaporkan kewalahan menangani lonjakan pasien yang datang hampir bersamaan, sementara ambulans silih berganti mengantar korban dan merujuk pasien dengan kondisi lebih serius ke rumah sakit.
Dari sekitar 2.200 porsi MBG yang dibagikan pada hari itu, jumlah pasti siswa yang mengalami keracunan masih dalam proses pendataan oleh petugas.
“Mungkin besok sudah ada datanya,” ujar seorang petugas di lokasi.
Meski demikian, sumber di Puskesmas Simpang Mamplam menyebut jumlah korban telah mencapai ratusan anak.
Sebagian pasien dirujuk ke RSUD dr. Fauziah Bireuen untuk mendapatkan penanganan lanjutan, sementara lainnya masih menjalani perawatan di puskesmas maupun klinik sekitar.
Hingga Jumat (27/2/2026) pukul 02.30 WIB dini hari, ambulans masih terlihat keluar masuk puskesmas membawa siswa dengan gejala serupa.
Warga menilai insiden ini perlu mendapat perhatian serius karena menyangkut keamanan pangan dalam program yang menyasar anak-anak sekolah. Dugaan mengarah pada kemungkinan masalah dalam proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi bakso yang dibagikan.
Sejumlah masyarakat meminta pemerintah segera melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti kejadian serta menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Keracunan massal terhadap siswa dinilai sebagai peristiwa serius yang tidak boleh terulang, terutama dalam program pangan yang seharusnya menjamin keamanan dan kesehatan peserta didik.
Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, yang menerima laporan kejadian tersebut seusai Salat Tarawih, langsung menuju Puskesmas Simpang Mamplam untuk memantau kondisi para korban.
Ia meninjau langsung Unit Gawat Darurat (UGD) dan memastikan penanganan medis terhadap siswa berjalan maksimal.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak terkait, sementara sampel makanan diduga tengah dalam proses evaluasi guna memastikan sumber kontaminasi.
.jpg)