Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dekan FKIP Universitas Almuslim Tekankan Pentingnya Parenting pada Masa Golden Age Anak

Rabu, 08 Juli 2026 | 21:24 WIB Last Updated 2026-07-08T14:24:43Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen – Dekan FKIP Universitas Almuslim, Dr. Sari Rizki, M.Psi, menegaskan bahwa keberhasilan membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia berawal dari keluarga. Menurutnya, orang tua memegang peran paling penting dalam membentuk karakter anak, terutama pada masa golden age atau usia 0 hingga 8 tahun, yang menjadi periode emas perkembangan anak.

Hal tersebut disampaikan Dr. Sari Rizki saat menjadi narasumber pada Seminar Parenting yang digelar TP-PKK Gampong Kuta Baro di Meunasah Gampong Kuta Baro, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Rabu (8/7/2026).

Seminar yang mengangkat tema "Mendidik dengan Cinta, Membimbing dengan Keteladanan, Membangun Generasi Hebat dari Rumah" itu dihadiri oleh Geuchik Gampong Kuta Baro Junaidi, perwakilan TP-PKK Kecamatan Kuala, Sekretaris Gampong Kuta Baro Kasmiati, Bendahara Gampong, Tgk. Imum Gampong Zakaria, jajaran TP-PKK Gampong Kuta Baro, serta puluhan ibu yang menjadi peserta kegiatan.

Dalam pemaparannya, Dr. Sari Rizki mengatakan bahwa banyak orang tua masih beranggapan pendidikan anak dimulai ketika memasuki bangku sekolah. Padahal, proses pendidikan yang sesungguhnya telah dimulai sejak anak lahir melalui interaksi yang dibangun di dalam keluarga.

"Rumah adalah sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak setiap hari akan membentuk kepribadian mereka di masa depan," ujarnya.

Sebagai psikolog sekaligus praktisi parenting, Dr. Sari menjelaskan bahwa usia 0 hingga 8 tahun merupakan fase yang sangat menentukan karena pada masa inilah perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Nilai-nilai kehidupan, kebiasaan, hingga kemampuan anak mengelola emosi mulai terbentuk pada periode tersebut.

Karena itu, ia mengingatkan para orang tua agar tidak hanya fokus pada pencapaian akademik anak, tetapi juga membangun kecerdasan emosional, karakter, serta kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah orang tua lebih banyak memberikan nasihat daripada menunjukkan keteladanan. Padahal, anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dibandingkan sekadar mendengarkan perkataan.

"Belajar parenting bukan hanya mempelajari teori, tetapi belajar membangun kebiasaan. Anak akan meniru bagaimana orang tuanya berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Dr. Sari juga memperkenalkan konsep lima love language atau bahasa kasih yang dapat membantu orang tua memahami kebutuhan emosional anak.

Ia menjelaskan bahwa bentuk pertama adalah kata-kata afirmasi, yakni memberikan pujian, apresiasi, dan kalimat positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri anak.

Selanjutnya adalah sentuhan fisik, seperti memeluk, mengusap kepala, atau menggandeng tangan anak. Sentuhan sederhana tersebut dinilai mampu memberikan rasa aman sekaligus mempererat ikatan emosional antara anak dan orang tua.

Bahasa kasih berikutnya adalah waktu berkualitas, yakni menyediakan waktu khusus untuk bermain, berbincang, atau mendengarkan cerita anak tanpa gangguan telepon genggam maupun pekerjaan.

Selain itu terdapat pemberian hadiah, yang bukan diukur dari nilai atau harganya, melainkan sebagai simbol perhatian dan kasih sayang kepada anak.

Adapun bentuk terakhir adalah tindakan pelayanan, yaitu membantu anak melalui tindakan nyata, seperti menyiapkan makanan kesukaannya, menemani belajar, atau membantu saat anak menghadapi kesulitan.

Dr. Sari menegaskan bahwa setiap anak memiliki bahasa kasih yang berbeda. Oleh sebab itu, orang tua perlu mengenali kebutuhan masing-masing anak agar kasih sayang yang diberikan benar-benar dirasakan dan mampu membangun kedekatan emosional dalam keluarga.

Lebih jauh, ia juga menyoroti tantangan pengasuhan di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap pola interaksi dalam keluarga sehingga orang tua dituntut lebih aktif mendampingi anak dalam menggunakan gawai maupun mengakses media digital.

Ia mengingatkan bahwa pendampingan yang baik bukan hanya sebatas membatasi waktu penggunaan gawai, tetapi juga menghadirkan komunikasi yang hangat, keterbukaan, dan kebersamaan dalam keluarga.

"Anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar keberadaan orang tua di rumah. Luangkan waktu untuk mendengar cerita mereka, bermain bersama, dan menjadi tempat ternyaman bagi anak untuk berbagi," pesannya.

Seminar berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai tantangan mendidik anak di tengah perkembangan teknologi, cara membangun kedisiplinan tanpa kekerasan, hingga membentuk kebiasaan positif sejak usia dini.

Melalui kegiatan tersebut, Dr. Sari Rizki berharap para orang tua semakin memahami bahwa membangun generasi unggul tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan komitmen, keteladanan, komunikasi yang baik, serta kasih sayang yang konsisten dari lingkungan keluarga agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.