Detikacehnews.id | Bireuen – Di tengah padatnya agenda memimpin percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana hidrometeorologi Sumatra, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Dr. Safrizal ZA, masih menyempatkan diri memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya di bidang pendidikan.
Pada Sabtu, 11 Juli 2026, Safrizal yang juga mendapat mandat sebagai Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh menerima informasi mengenai kondisi seorang murid berprestasi dari MIN 21 Jeumpa, Kabupaten Bireuen, bernama Muhammad Rafiki. Informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa Rafiki membutuhkan bantuan untuk membeli perlengkapan sekolah menjelang dimulainya tahun ajaran baru.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Safrizal segera menghubungi Muhajir Juli yang saat ini mendapat amanah sebagai Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Bireuen. Ia meminta agar informasi tersebut diverifikasi sekaligus memastikan kebutuhan Rafiki secara menyeluruh.
"Informasi yang masuk ke saya, ada permintaan dari seseorang supaya dibantu tiga lusin buku tulis. Coba cek, siapa tahu Rafiki juga membutuhkan dukungan pakaian dan kebutuhan sekolah lainnya," ujar Safrizal kepada Muhajir Juli.
Permintaan tersebut langsung ditindaklanjuti. Muhajir Juli yang saat itu berada di kampung halamannya melakukan penelusuran dengan bantuan Iskandar, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) UPTD SD Negeri 2 Jeumpa yang akrab disapa Aby Kandar.
Dari hasil penelusuran diketahui bahwa Muhammad Rafiki berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Ia merupakan putra pasangan Faisal yang bekerja sebagai tukang kayu dan Yulidar. Keluarga tersebut tinggal di Desa Kuala Jeumpa, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.
Setelah memperoleh laporan mengenai kondisi keluarga Rafiki, Safrizal yang juga pernah menjabat sebagai Penjabat Gubernur Aceh langsung mengirimkan sejumlah dana untuk membantu memenuhi kebutuhan Rafiki.
"Belikan perlengkapan sekolah untuk Rafiki. Bila masih ada lebih, belikan sembako untuk mereka," pesan Safrizal.
Muhajir Juli kemudian menghubungi Iskandar untuk meminta kesediaannya mendampingi Rafiki bersama ibunya berbelanja kebutuhan sekolah. Tanpa ragu, Iskandar menerima amanah tersebut.
Meski harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kediamannya, Iskandar segera menjemput Yulidar dan Rafiki menggunakan kendaraan pribadinya. Keduanya kemudian dibawa menuju Kota Bireuen untuk membeli berbagai perlengkapan sekolah yang dibutuhkan.
Perjalanan pertama menuju sebuah pusat penjualan seragam sekolah. Sementara Rafiki bersama ibunya memilih pakaian dan perlengkapan yang diperlukan, Iskandar menunggu di area parkir.
Hampir dua jam proses berbelanja berlangsung. Setelah selesai, Rafiki dan ibunya keluar dari toko dengan raut wajah bahagia. Mereka berhasil memperoleh dua pasang seragam sekolah, sepasang sepatu, tas sekolah, kaus kaki, serta kopiah yang akan digunakan Rafiki pada tahun ajaran baru.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke sebuah toko alat tulis. Di lokasi tersebut, Rafiki membeli empat lusin buku tulis, buku gambar, pulpen, penghapus, penggaris, serta berbagai perlengkapan belajar lainnya.
Setelah seluruh kebutuhan sekolah terpenuhi, Iskandar menghitung sisa dana yang masih tersedia. Ternyata jumlahnya masih mencukupi untuk membeli kebutuhan pokok bagi keluarga Rafiki, sebagaimana pesan yang disampaikan Safrizal.
Usai mengantar Rafiki dan ibunya kembali ke rumah, Iskandar melanjutkan perjalanan menuju toko sembako. Ia membeli satu zak beras, minyak goreng kemasan, telur, serta gula pasir untuk kemudian diantarkan langsung ke kediaman keluarga Rafiki di Desa Kuala Jeumpa.
Setelah seluruh amanah selesai dilaksanakan, Iskandar mengirimkan pesan singkat kepada Muhajir Juli yang bertuliskan, "Mission Complete."
Bantuan tersebut disambut penuh rasa syukur oleh Rafiki dan ibunya. Keduanya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Safrizal ZA atas perhatian dan kepeduliannya yang telah membantu memenuhi kebutuhan sekolah sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga mereka.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa kepedulian terhadap dunia pendidikan tidak selalu diwujudkan melalui program-program besar. Perhatian terhadap kebutuhan dasar seorang anak untuk memperoleh perlengkapan belajar yang layak juga memiliki arti penting dalam menjaga semangat mereka untuk terus menuntut ilmu.
Melalui bantuan tersebut, Muhammad Rafiki kini dapat menyambut tahun ajaran baru dengan perlengkapan sekolah yang memadai, sementara keluarganya turut memperoleh bantuan kebutuhan pokok yang diharapkan dapat meringankan beban ekonomi sehari-hari.
