Detikacehnews.id | Bireuen – Ulama kharismatik Aceh, Teungku H. Muhammad Ali atau yang akrab disapa Abu Paya Pasi, menegaskan bahwa setiap Muslim wajib mempelajari dan menguasai tiga ilmu dasar dalam agama Islam, yaitu ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf. Ketiga ilmu tersebut merupakan fondasi utama yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehidupan beragama yang benar dan sempurna.
Pesan tersebut disampaikan Abu Paya Pasi dalam pengajian akbar yang berlangsung di Masjid Baitul Huda Cot Ijue, Kemukiman Simpang Dua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Minggu (5/7/2026), yang dihadiri ratusan jamaah dari berbagai daerah.
Dalam tausiahnya, beliau menjelaskan bahwa ilmu tauhid berkaitan dengan akidah dan keyakinan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tauhid menjadi pondasi utama yang menentukan kualitas keimanan seseorang, sehingga harus dipahami dengan benar sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurut beliau, seseorang tidak akan mampu menjalankan ibadah dengan sempurna apabila tidak memiliki keyakinan yang lurus dan benar kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mempelajari ilmu tauhid menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan oleh setiap Muslim.
"Tauhid adalah dasar segala-galanya. Dengan tauhid yang benar, seseorang akan mengenal Tuhannya, memahami tujuan hidupnya, serta memiliki keyakinan yang kokoh dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT," terang Abu Paya Pasi.
Selain tauhid, beliau juga menekankan pentingnya ilmu fikih sebagai pedoman dalam menjalankan syariat Islam. Ilmu fikih mengatur berbagai aspek ibadah dan muamalah, mulai dari tata cara bersuci, salat, puasa, zakat, hingga berbagai ketentuan dalam kehidupan sosial masyarakat.
Abu Paya Pasi menjelaskan bahwa setiap ibadah harus dilakukan berdasarkan ilmu agar diterima oleh Allah SWT. Menjalankan ibadah tanpa memahami hukum-hukumnya dapat menimbulkan kekeliruan yang berakibat pada tidak sempurnanya amalan tersebut.
"Fikih adalah panduan dalam menjalankan syariat. Ibadah yang kita lakukan harus berdasarkan ilmu dan tuntunan yang benar agar memiliki nilai di sisi Allah SWT. Karena itu, belajar fikih merupakan kewajiban bagi setiap Muslim," ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa ilmu tasawuf memiliki peranan penting dalam membentuk akhlak dan membersihkan hati manusia. Tasawuf mengajarkan keikhlasan, kesabaran, tawadhu, serta berbagai sifat terpuji yang menjadi cerminan dari kesempurnaan iman seseorang.
Menurut Abu Paya Pasi, ilmu tasawuf bukan hanya berbicara tentang ibadah lahiriah, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menjaga kebersihan hati dari penyakit-penyakit seperti riya, sombong, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.
"Jika tauhid memperbaiki keyakinan dan fikih memperbaiki ibadah lahir, maka tasawuf memperbaiki hati dan akhlak. Ketiganya harus berjalan seiring agar kehidupan seorang Muslim menjadi sempurna," jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa tauhid, fikih, dan tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga ilmu tersebut menjadi syarat mutlak bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan beragama secara utuh.
Seseorang yang hanya mempelajari tauhid tanpa fikih, menurut beliau, akan mengalami kesulitan dalam menjalankan syariat dengan benar. Sebaliknya, mempelajari fikih tanpa tasawuf dapat menyebabkan seseorang kehilangan nilai-nilai keikhlasan dan kemuliaan akhlak dalam beribadah.
Karena itu, Abu Paya Pasi mengajak masyarakat untuk terus menuntut ilmu agama melalui majelis-majelis pengajian, dayah, dan berbagai kegiatan keislaman yang dilaksanakan di masjid-masjid.
Beliau juga mengingatkan pentingnya peran masjid sebagai pusat pendidikan umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga menjadi sarana pembinaan akidah, penguatan syariat, dan pembentukan akhlak generasi muda.
"Majelis ilmu harus terus diramaikan. Anak-anak dan generasi muda perlu dibimbing agar memahami agama dengan benar sejak dini. Dengan ilmu yang benar, mereka akan mampu menjaga diri dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat," pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Abu Paya Pasi juga mengingatkan masyarakat agar senantiasa menghormati ulama dan menjaga tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan oleh para pendahulu di Aceh. Menurut beliau, keberkahan ilmu akan lahir apabila masyarakat tetap menjaga hubungan yang baik dengan para guru dan orang-orang saleh.
Tausiah yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun sarat makna tersebut mendapat sambutan hangat dari para jamaah. Ratusan masyarakat tampak khusyuk mengikuti pengajian hingga selesai, menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat Aceh terhadap majelis ilmu dan para ulama.
Melalui pengajian akbar tersebut, Abu Paya Pasi kembali mengingatkan umat bahwa membangun kehidupan beragama yang kokoh harus dimulai dengan memperkuat tiga pilar utama, yakni tauhid sebagai fondasi akidah, fikih sebagai pedoman syariat, dan tasawuf sebagai pembentuk akhlak mulia. Ketiganya menjadi bekal penting bagi setiap Muslim untuk meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
