Detikacehnews.id | Bireuen – Kolaborasi penyanyi dangdut asal Aceh, Cut Rianda Zuhra atau yang lebih dikenal dengan Cut Zuhra, bersama Sanggar Meuligoe Jeumpa Bireuen berhasil memukau ribuan penonton dalam kegiatan Malam Apresiasi Seni yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen tahun 2026.
Penampilan kolaboratif tersebut berlangsung di halaman Pendopo Bireuen, Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Perpaduan vokal Cut Zuhra dengan gerakan tari yang dibawakan para penari Sanggar Meuligoe Jeumpa menghadirkan pertunjukan seni yang menarik sekaligus memperkuat nuansa budaya Aceh dalam perayaan hari jadi Kabupaten Bireuen.
Malam Apresiasi Seni menjadi salah satu agenda yang menyemarakkan peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga ruang untuk menampilkan kreativitas seniman lokal melalui kolaborasi musik dan tari tradisional.
Cut Zuhra, penyanyi yang dikenal luas setelah menjadi finalis Top 6 ajang pencarian bakat Liga Dangdut Indonesia (LIDA) musim kedua di Indosiar, tampil membawakan sejumlah lagu di hadapan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian penonton adalah saat Cut Zuhra membawakan lagu berbahasa Aceh berjudul Meugoe Sira. Lagu tersebut diiringi tarian yang dibawakan oleh Sanggar Meuligoe Jeumpa Bireuen, sehingga menciptakan perpaduan pertunjukan vokal dan tari yang harmonis.
Sanggar Meuligoe Jeumpa Bireuen merupakan kelompok seni yang dibina oleh Sadriah, SKM., MKM., istri Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, S.T., yang juga menjabat sebagai Ketua TP-PKK Kabupaten Bireuen.
Keterlibatan sanggar tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan seni dan budaya daerah dalam perayaan HUT Kabupaten Bireuen. Melalui kolaborasi tersebut, kekayaan seni Aceh ditampilkan dalam kemasan pertunjukan yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat.
Lagu Meugoe Sira sendiri merupakan salah satu singel populer Cut Zuhra yang dirilis pada 3 Februari 2025. Dalam bahasa Aceh, meugoe sira berarti bertani garam. Lagu ini mengangkat filosofi perjuangan hidup, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai ujian.
Proses pembuatan garam tradisional yang membutuhkan waktu, panas matahari, serta kerja keras menjadi gambaran perjalanan hidup manusia. Sebagaimana air laut yang harus melalui proses panjang sebelum menghasilkan garam, kehidupan juga membutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Pesan tersebut menjadikan Meugoe Sira tidak sekadar sebagai lagu hiburan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Perjuangan yang berat, kesulitan yang harus dihadapi, serta keteguhan untuk terus melangkah menjadi bagian dari makna yang terkandung di dalamnya.
Ketika lagu tersebut dibawakan bersama tarian Sanggar Meuligoe Jeumpa, pesan yang disampaikan melalui musik semakin diperkuat oleh gerakan para penari. Kolaborasi itu sekaligus memperlihatkan bagaimana lagu berbahasa daerah dapat dikembangkan menjadi pertunjukan seni yang menarik tanpa meninggalkan identitas budaya Aceh.
Penutupan Perlombaan Bernuansa Spiritual
Selain menghadirkan Malam Apresiasi Seni, kegiatan pada Sabtu malam tersebut juga dirangkai dengan penutupan rangkaian perlombaan dalam rangka memperingati HUT ke-27 Kabupaten Bireuen.
Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, S.T., secara resmi menutup rangkaian kegiatan perlombaan yang telah menjadi bagian dari perayaan hari jadi kabupaten tersebut. Prosesi penutupan berlangsung di halaman Pendopo Bireuen dan dirangkai dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang dari sejumlah perlombaan yang diselenggarakan.
Momentum penutupan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang melibatkan masyarakat melalui berbagai kegiatan. Selain memberikan apresiasi kepada para peserta yang berhasil meraih prestasi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat untuk menikmati hiburan dan menyaksikan pertunjukan seni.
Menariknya, malam penutupan perlombaan kali ini turut dipadukan dengan nuansa spiritual melalui tema besar Bireuen Bershalawat. Konsep tersebut menghadirkan suasana yang berbeda, dengan memadukan hiburan seni, pelestarian budaya, dan lantunan selawat dalam satu rangkaian kegiatan.
Cut Zuhra mengawali penampilannya dengan membawakan lagu bernuansa selawat sebagai pembuka. Pilihan tersebut selaras dengan suasana religius yang diusung dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen.
Setelah penampilan pembuka tersebut, Cut Zuhra melanjutkan penampilannya dengan membawakan lagu-lagu lainnya, termasuk Meugoe Sira yang mendapat iringan tari dari Sanggar Meuligoe Jeumpa Bireuen. Secara keseluruhan, Cut Zuhra membawakan tiga lagu pada malam tersebut.
Perpaduan nuansa spiritual dengan pertunjukan seni menjadi salah satu ciri yang mewarnai kegiatan malam itu. Musik, tarian, dan lantunan selawat hadir sebagai bagian dari perayaan yang tidak hanya menitikberatkan pada hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi ekspresi budaya dan nilai-nilai religius yang hidup di tengah masyarakat Aceh.
Melalui kegiatan tersebut, peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen menjadi momentum untuk menampilkan beragam potensi daerah, mulai dari kreativitas seniman, kekayaan budaya, hingga tradisi keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Kolaborasi Cut Zuhra dan Sanggar Meuligoe Jeumpa Bireuen sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas. Dengan mengangkat lagu berbahasa Aceh dan mengiringinya dengan tarian, pertunjukan tersebut menghadirkan kekhasan lokal dalam suasana perayaan hari jadi kabupaten.
Rangkaian kegiatan yang ditutup secara resmi oleh Bupati Mukhlis itu menjadi salah satu bagian penting dari peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen tahun 2026, dengan menghadirkan perpaduan apresiasi seni, penghargaan kepada peserta lomba, serta nuansa spiritual dalam kebersamaan masyarakat.

