Detikacehnews.id | Bireuen – Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim (FK Umuslim) bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen menggelar bakti sosial pengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi anggota IDI Cabang Bireuen dan mahasiswa FK Umuslim, serta pelayanan pengobatan gratis spesialistik bagi masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026, di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi kalangan akademisi dan tenaga medis dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim yang juga Ketua IDI Cabang Bireuen, dr. Zumirda, Sp.B-ET., FINACS., FICS. Turut hadir Ketua Dewan Pertimbangan IDI Cabang Bireuen, dr. Abri Hatinsyah Efendi, Sp.B., FICS, puluhan dokter spesialis, dokter umum, serta mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim.
Dalam laporannya, dr. Zumirda menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial tersebut merupakan pelaksanaan perdana yang diharapkan dapat menjadi agenda rutin setiap tahun. Ke depan, kegiatan serupa direncanakan berlangsung dengan cakupan pelayanan dan skala yang lebih besar sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan secara langsung kepada warga, tetapi juga pada peningkatan kapasitas calon tenaga medis dan anggota IDI dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat.
Melalui kegiatan yang menggabungkan pelatihan medis dan pelayanan pengobatan tersebut, FK Umuslim dan IDI Cabang Bireuen berupaya memperkuat peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi, pertolongan awal, serta pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat.
Pelatihan BHD Bekali Mahasiswa dan Dokter Keterampilan Pertolongan Darurat
![]() |
| Simulasi Pelatihan BHD |
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diikuti anggota IDI Cabang Bireuen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim.
BHD merupakan serangkaian tindakan pertolongan awal yang diberikan kepada seseorang yang mengalami kondisi kegawatdaruratan, terutama ketika terjadi henti jantung atau henti napas. Pertolongan ini mencakup pengenalan tanda-tanda kegawatdaruratan, aktivasi sistem bantuan darurat, resusitasi jantung paru (RJP), serta penggunaan alat bantu seperti automated external defibrillator (AED) apabila tersedia dan sesuai indikasi.
Keterampilan tersebut sangat penting karena pada kondisi tertentu, keterlambatan memberikan pertolongan dapat meningkatkan risiko kematian atau memperburuk kondisi korban. Oleh karena itu, pemahaman mengenai langkah-langkah pertolongan awal perlu dimiliki oleh tenaga kesehatan, termasuk mahasiswa kedokteran yang nantinya akan terlibat langsung dalam pelayanan medis.
Dalam pelatihan tersebut, panitia menghadirkan dr. Nora Safira, dokter spesialis anestesi yang bertugas di RS BMC, sebagai pemateri. Kegiatan juga didukung sejumlah dokter umum yang turut membantu proses pembekalan dan simulasi.
Pelatihan diawali dengan penyampaian materi kepada mahasiswa FK Umuslim dan anggota IDI Cabang Bireuen di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya mengenali kondisi darurat, memahami urutan tindakan pertolongan, serta melakukan penanganan awal sesuai prosedur yang berlaku.
Setelah sesi pembekalan, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi praktik bantuan hidup dasar. Melalui sesi ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami penerapan materi dalam situasi yang menggambarkan kondisi kegawatdaruratan di lapangan, termasuk ketika menemukan seseorang yang tiba-tiba membutuhkan pertolongan.
Dalam simulasi tersebut, dr. Zumirda turut memimpin langsung jalannya praktik dengan menggunakan mikrofon untuk memberikan arahan kepada mahasiswa. Ia membimbing peserta dalam mengikuti tahapan simulasi sehingga kegiatan berlangsung lebih terarah dan interaktif.
Praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan BHD karena keterampilan pertolongan darurat tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Peserta juga perlu berlatih mengenali situasi, mengambil keputusan awal, berkoordinasi dengan tim, serta melakukan tindakan sesuai kompetensi dan prosedur keselamatan.
Dengan adanya pelatihan tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Sementara bagi anggota IDI, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan yang menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Ratusan Warga Antusias Manfaatkan Pengobatan Gratis Spesialistik
Selain pelatihan BHD, kegiatan bakti sosial tersebut juga dirangkai dengan pelayanan pengobatan gratis spesialistik yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Sejak kegiatan berlangsung, ratusan warga terlihat mendatangi Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Warga yang hadir berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia (lansia).
Pelayanan ini menghadirkan puluhan dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, didukung dokter umum yang turut memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Adapun layanan yang disediakan meliputi pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, spesialis jantung, spesialis bedah saraf, spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), spesialis paru, spesialis penyakit dalam, serta sejumlah bidang spesialisasi lainnya.
Kehadiran dokter dari berbagai disiplin ilmu tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing. Pelayanan spesialistik juga memungkinkan warga memperoleh penilaian medis yang lebih terarah berdasarkan bidang keahlian dokter yang menangani.
Pengobatan gratis spesialistik merupakan kegiatan pelayanan kesehatan yang memberikan akses konsultasi dan pemeriksaan oleh dokter spesialis tanpa memungut biaya kepada penerima manfaat sesuai ketentuan kegiatan. Melalui pelayanan ini, masyarakat dapat memperoleh pemeriksaan awal, berkonsultasi mengenai keluhan yang dialami, serta mendapatkan arahan medis mengenai penanganan atau tindak lanjut yang diperlukan.
Pelayanan tersebut menjadi penting karena tidak semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses konsultasi dokter spesialis. Melalui kegiatan bakti sosial, akses terhadap pelayanan kesehatan diharapkan menjadi lebih mudah, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan dan informasi medis secara langsung.
Pelayanan Disiapkan Menyerupai Alur Pemeriksaan di Rumah Sakit
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, pelayanan pengobatan gratis spesialistik diselenggarakan dengan alur yang menyerupai pelayanan pasien di rumah sakit.
Warga terlebih dahulu menjalani proses registrasi sebelum diarahkan ke tahapan pemeriksaan berikutnya. Pelayanan dilanjutkan dengan pemeriksaan awal, seperti pengecekan darah sesuai kebutuhan dan penimbangan berat badan, sebelum pasien berkonsultasi langsung dengan dokter yang bertugas.
Setelah menjalani pemeriksaan dan konsultasi, warga dapat memperoleh obat secara gratis sesuai hasil penilaian dan resep dokter.
Penataan alur pelayanan tersebut bertujuan membantu proses pemeriksaan berjalan lebih tertib, sekaligus memudahkan warga dalam mengikuti setiap tahapan layanan. Para dokter spesialis dan dokter umum telah disiagakan di lokasi untuk memberikan pelayanan sesuai bidang masing-masing.
Melalui mekanisme tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menyampaikan keluhan kesehatan, tetapi juga mendapatkan penjelasan medis mengenai kondisi yang diperiksa serta saran penanganan yang sesuai.
Pelayanan yang terintegrasi mulai dari registrasi, pemeriksaan awal, konsultasi dokter hingga pemberian obat diharapkan memberikan pengalaman pelayanan yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat.
Meski demikian, pengobatan gratis ini merupakan bagian dari bakti sosial. Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan atau penanganan khusus, pasien tetap perlu mengikuti rekomendasi dokter dan mengakses fasilitas kesehatan yang sesuai.
Warga Terima Bingkisan
Sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat yang hadir, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyerahan bingkisan kepada warga yang mengikuti pengobatan gratis.
Bingkisan diserahkan langsung oleh dr. Zumirda kepada warga yang datang untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Pemberian tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial yang menyertai pelayanan medis.
Antusiasme warga yang hadir menunjukkan bahwa kegiatan pelayanan kesehatan langsung di tengah masyarakat memiliki manfaat nyata, terutama dalam memberikan kesempatan kepada warga untuk berkonsultasi dengan tenaga medis dari berbagai bidang spesialisasi.
Keterlibatan puluhan dokter spesialis, dokter umum, dan mahasiswa kedokteran juga mencerminkan kolaborasi antara organisasi profesi dan institusi pendidikan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran di luar perkuliahan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan. Sementara bagi para dokter, kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian profesi sekaligus upaya memperluas manfaat keahlian medis bagi masyarakat.
Diharapkan Menjadi Agenda Tahunan
Pelaksanaan bakti sosial FK Umuslim bersama IDI Cabang Bireuen diharapkan menjadi langkah awal bagi terselenggaranya kegiatan serupa secara berkelanjutan.
Rencana menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda tahunan dengan skala yang lebih besar membuka peluang untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan, meningkatkan partisipasi tenaga medis, serta memberikan manfaat kepada lebih banyak warga.
Melalui perpaduan pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan pengobatan gratis spesialistik, kegiatan ini membawa dua tujuan penting, yakni meningkatkan kesiapan tenaga medis dan calon dokter dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan serta memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim dan IDI Cabang Bireuen tersebut sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dan organisasi profesi kedokteran dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Ke depan, keberlanjutan kegiatan semacam ini diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan, penanganan dini, dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat medis.





