![]() |
Oleh: Emiati, S.Pd., Pitri Ristia Ningsih, S.Pd., Dr. Muhammad Iqbal, M. Ag dan Dr. Aminah, M.Pd. (Program Studi Magister Pendidikan Dasar (PENDAS) Pascasarjana Universitas Almuslim |
Namun, realitas pendidikan saat ini memperlihatkan fenomena yang patut menjadi perhatian bersama. Tidak sedikit pendidik yang mengeluhkan perubahan perilaku generasi muda, khususnya dalam hal kesopanan, penghormatan terhadap guru, dan tata krama dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Sikap membantah ketika dinasihati, berbicara dengan nada tinggi kepada guru, mengabaikan teguran, hingga kurangnya penghormatan terhadap orang tua seolah menjadi persoalan yang semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
![]() |
Fenomena tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh generasi muda. Masih banyak anak dan peserta didik yang menunjukkan sikap santun, menghormati guru, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, berbagai gejala kemerosotan adab yang muncul perlu menjadi bahan evaluasi bagi dunia pendidikan. Sebab, apabila persoalan ini terus dibiarkan, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi lemah dalam karakter dan moralitas.
Adab Harus Menjadi Fondasi Utama Pendidikan
Dalam ajaran Islam, adab menempati kedudukan yang sangat penting. Bahkan, para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap pembentukan adab sebelum mengajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dan adab merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Seseorang mungkin memiliki gelar akademik yang tinggi, menguasai berbagai teori, serta mampu menjawab persoalan ilmiah dengan baik. Namun, apabila ia tidak mampu menghormati orang lain, tidak memiliki kesantunan dalam berbicara, dan tidak dapat mengendalikan perilakunya, maka ilmu yang dimilikinya belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan pendidikan.
Al-Quran memberikan landasan yang sangat kuat mengenai pentingnya akhlak dan adab. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 23 yang menjelaskan perintah Allah Swt. agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tua dan tidak mengucapkan perkataan yang menyakitkan kepada mereka.
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari pembentukan sikap hormat, kasih sayang, dan kesantunan terhadap orang lain, terutama orang tua. Nilai-nilai ini juga relevan diterapkan dalam hubungan antara peserta didik dengan guru sebagai pendidik yang memiliki tanggung jawab membimbing dan mengembangkan potensi mereka.
Rasulullah saw. juga menegaskan pentingnya akhlak melalui hadis yang menjelaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan manusia berakhlak merupakan bagian penting dari misi pendidikan dalam Islam.
Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan Al-Quran dan Hadis semestinya tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga membimbing mereka agar mampu bersikap baik, menghargai sesama, serta bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
Pengaruh Sistem Pendidikan dan Adopsi Pemikiran dari Luar
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam perkembangan pendidikan saat ini adalah kecenderungan mengadopsi berbagai konsep dan pendekatan pendidikan dari luar tanpa melakukan penyaringan secara kritis terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pada dasarnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan pertukaran gagasan antarnegara merupakan sesuatu yang positif. Berbagai metode pembelajaran modern, teknologi pendidikan, serta pendekatan pengembangan kompetensi dapat memberikan manfaat besar bagi kemajuan pendidikan. Islam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Namun, persoalan muncul ketika konsep pendidikan yang diadopsi tidak disesuaikan dengan nilai, budaya, dan prinsip syariat Islam. Pendidikan yang hanya berorientasi pada kebebasan individu, pencapaian akademik, dan pengembangan keterampilan tanpa diimbangi pembentukan moral dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam proses pendidikan.
Sebagai contoh, kebebasan peserta didik dalam menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari pembelajaran modern. Peserta didik perlu diberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan kritik, dan mengembangkan pemikiran kritis. Akan tetapi, kebebasan tersebut tidak seharusnya dimaknai sebagai kebebasan untuk mengabaikan kesopanan, merendahkan guru, atau menolak nasihat tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Demikian pula, konsep pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran perlu dipahami secara proporsional. Peserta didik memang harus mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya, tetapi tetap memerlukan arahan, bimbingan, serta batasan moral yang jelas.
Oleh karena itu, tidak tepat apabila setiap konsep pendidikan dari luar langsung diterapkan tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Kita perlu bersikap terbuka terhadap kemajuan, tetapi tetap memiliki prinsip yang kuat. Setiap pendekatan pendidikan harus dikaji, disesuaikan, dan disaring berdasarkan nilai-nilai Al-Quran dan Hadis agar kemajuan intelektual tidak mengorbankan pembentukan akhlak.
Tantangan Pendidikan di Era Digital
Kemerosotan adab generasi muda juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Kehadiran internet telah memberikan kemudahan bagi anak-anak dan remaja untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, serta mengembangkan wawasan. Akan tetapi, penggunaan teknologi tanpa pengawasan dan pendampingan yang memadai dapat memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan karakter.
Media sosial, misalnya, sering memperlihatkan pola komunikasi yang kurang santun. Ujaran kasar, penghinaan, perdebatan tanpa etika, serta perilaku merendahkan orang lain dapat ditemukan dalam berbagai ruang digital. Apabila kebiasaan tersebut terus dikonsumsi dan ditiru, bukan tidak mungkin akan memengaruhi cara generasi muda berkomunikasi dalam kehidupan nyata.
Selain itu, sebagian anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat digital dibandingkan berinteraksi secara langsung dengan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Akibatnya, pembiasaan nilai-nilai kesopanan, empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap orang lain dapat mengalami tantangan.
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan Islam memiliki peran strategis. Anak-anak harus dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara bijaksana, memahami batasan dalam berkomunikasi, serta menyadari bahwa adab tidak hanya berlaku ketika bertemu secara langsung, tetapi juga ketika berinteraksi melalui media digital.
Dengan demikian, pendidikan berbasis Al-Quran dan Hadis harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan prinsip dasarnya.
Keluarga dan Guru sebagai Penentu Pembentukan Adab
Pembentukan adab tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pendidikan formal. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak. Sebelum mengenal guru dan sekolah, anak terlebih dahulu belajar mengenai perilaku, bahasa, kebiasaan, dan nilai kehidupan dari orang tuanya.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang membiasakan perkataan santun, menghormati orang lain, menjalankan ibadah, dan menerapkan nilai-nilai agama akan memiliki fondasi karakter yang lebih kuat. Sebaliknya, ketika anak terbiasa menyaksikan pertengkaran, perkataan kasar, dan perilaku tidak menghargai orang lain, hal tersebut berpotensi memengaruhi pembentukan kepribadiannya.
Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi, memberikan fasilitas belajar, atau memastikan anak memperoleh nilai akademik yang tinggi. Lebih dari itu, orang tua memiliki tanggung jawab menanamkan nilai keimanan, membimbing ibadah, mengajarkan kesopanan, dan memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan sekolah, guru juga memiliki peran yang sangat penting. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan pendidik yang bertanggung jawab membentuk kepribadian peserta didik. Keteladanan seorang guru sering kali memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada sekadar nasihat.
Guru yang berbicara dengan santun, bersikap adil, menghargai peserta didik, serta menunjukkan kedisiplinan akan menjadi contoh nyata bagi anak-anak. Sebaliknya, pendidikan adab akan sulit berhasil apabila peserta didik hanya dituntut untuk bersikap baik, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai tersebut.
Oleh sebab itu, hubungan antara guru dan peserta didik perlu dibangun atas dasar penghormatan, kasih sayang, tanggung jawab, dan keteladanan. Menghormati guru bukan berarti peserta didik tidak boleh bertanya atau menyampaikan pendapat. Mereka tetap berhak mengembangkan pemikiran kritis, tetapi harus melakukannya dengan bahasa dan sikap yang baik.
Mengembalikan Pendidikan kepada Nilai-Nilai Al-Quran dan Hadis
Menghadapi persoalan kemerosotan adab, diperlukan upaya nyata untuk mengembalikan pendidikan kepada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak. Al-Quran dan Hadis harus menjadi landasan nilai dalam setiap proses pendidikan, bukan hanya menjadi materi pelajaran yang dipelajari secara teoritis.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan adab.
Pertama, memperkuat pendidikan agama dan pembiasaan akhlak dalam kehidupan sekolah. Nilai-nilai Islam harus diterapkan melalui kegiatan sehari-hari, seperti membiasakan salam, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, menjaga kebersihan, berbicara dengan santun, menghormati guru, serta saling menghargai antarsesama peserta didik.
Kedua, mengintegrasikan nilai-nilai Al-Quran dan Hadis ke dalam seluruh mata pelajaran. Pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh pendidik. Guru matematika, bahasa, sains, maupun bidang studi lainnya dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, ketelitian, dan rasa syukur kepada Allah Swt.
Ketiga, melakukan penyaringan terhadap konsep dan metode pendidikan yang berasal dari luar. Setiap inovasi pendidikan harus dinilai berdasarkan manfaat dan kesesuaiannya dengan prinsip Islam. Kita tidak perlu menolak kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga tidak boleh kehilangan identitas dan landasan moral dalam menyelenggarakan pendidikan.
Keempat, memperkuat kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembentukan karakter tidak akan berjalan optimal apabila hanya dilakukan di sekolah, sementara lingkungan keluarga dan masyarakat tidak memberikan dukungan yang sejalan. Ketiganya harus memiliki komitmen yang sama dalam membimbing generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan beradab.
Kelima, membangun budaya keteladanan. Pendidikan adab tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau aturan tertulis. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam perilaku nyata oleh orang tua, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh unsur masyarakat.
Pendidikan yang Berhasil Adalah Pendidikan yang Melahirkan Generasi Beradab
Sudah saatnya kita melakukan refleksi terhadap arah pendidikan yang sedang berkembang. Kemajuan pendidikan tidak seharusnya hanya dilihat dari banyaknya peserta didik yang memperoleh nilai tinggi, meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, atau semakin canggihnya fasilitas pembelajaran. Ukuran keberhasilan pendidikan juga harus dilihat dari kualitas moral dan perilaku generasi yang dihasilkan.
Kita tentu menginginkan generasi muda yang menguasai teknologi, mampu bersaing secara global, memiliki kreativitas, dan berpikir kritis. Namun, semua kemampuan tersebut harus disertai dengan keimanan, ketakwaan, kesantunan, serta tanggung jawab sosial.
Sebab, kecerdasan tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Ilmu tanpa moral dapat disalahgunakan. Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat menimbulkan kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang dibimbing oleh iman dan adab akan memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa.
Pendidikan yang berlandaskan Al-Quran dan Hadis bukan berarti pendidikan yang menolak modernisasi. Justru, pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang maju dalam ilmu pengetahuan, terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap teguh memegang prinsip-prinsip agama.
Pada akhirnya, persoalan rendahnya adab generasi muda harus menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua tidak boleh sepenuhnya menyalahkan sekolah, guru tidak boleh hanya menyalahkan keluarga, dan lembaga pendidikan tidak boleh mengabaikan pengaruh lingkungan sosial serta perkembangan teknologi.
Semua pihak perlu mengambil bagian dalam memperbaiki keadaan. Kita harus mengembalikan adab sebagai fondasi pendidikan, menjadikan Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman nilai, serta memastikan bahwa setiap proses pembelajaran tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk hati dan perilaku.
Sebab, tujuan pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya melahirkan generasi yang pintar menjawab pertanyaan, melainkan generasi yang memahami bagaimana bersikap, menghormati sesama, menjaga amanah, dan menggunakan ilmunya untuk kebaikan. Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang, tetapi adab menunjukkan kualitas kemuliaan dirinya.



