Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Respon Cepat Bupati Bireuen, Jenazah Warga Bate Raya Difasilitasi Ambulans Gratis

Rabu, 06 Agustus 2025 | 09:50 WIB Last Updated 2025-08-06T02:50:10Z

Mobil Ambulance Takabeya Peduli saat menjemput jenazah warga Gampong Bate Raya di RS Perta Inti Medika (PIM) Lhokseumawe.




Detikacehnews.id | Bireuen - Di tengah derap pembangunan dan kesibukan pemerintahan, perhatian Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST terhadap warganya yang mengalami musibah kembali terlihat nyata. Kali ini, kepedulian itu diwujudkan dalam bentuk bantuan fasilitas ambulans gratis untuk pemulangan jenazah seorang warga bernama Khalidin, asal Gampong Bate Raya, Kecamatan Juli, yang meninggal dunia secara mendadak saat dalam perjalanan.


Kisah ini bermula pada Senin malam (4/8/2025), ketika informasi duka datang dari grup komunikasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Bireuen, sebuah organisasi relawan komunikasi darurat yang kerap menjadi garda terdepan dalam menyampaikan kabar penting. Seorang anggota aktif RAPI, Murdani (JZ01FCK), menginformasikan bahwa Khalidin mengalami serangan jantung dan meninggal dunia setelah sempat dibawa ke RS Perta Inti Medika (PIM) Lhokseumawe.


Mendengar kabar tersebut, para relawan RAPI segera bergerak cepat, tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga mencari tahu siapa keluarga almarhum, kondisi mereka, serta kebutuhan yang mendesak. Salah satu hal paling urgen saat itu adalah kendaraan ambulans untuk membawa jenazah kembali ke kampung halaman, mengingat keluarga tidak memiliki kendaraan pribadi dan kondisi emosional mereka sedang sangat terpukul.


Informasi ini pun sampai ke telinga Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, yang dikenal luas sebagai pemimpin yang peka terhadap persoalan sosial warganya. Tanpa menunggu lama, Bupati langsung menghubungi relawan Ambulance Takabeya Peduli, yakni Rahmat T. Geurugok, sosok yang sudah lama dikenal di kalangan masyarakat Bireuen karena dedikasinya mengantarkan warga dalam kondisi darurat, baik sakit maupun wafat, ke tempat tujuan mereka dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.


Dengan sigap, Rahmat atau yang akrab disapa Nyakgok langsung mengemudikan ambulans menuju RS PIM Lhokseumawe. Setelah proses administrasi dan koordinasi selesai, jenazah Khalidin dibawa pulang dengan penuh kehormatan. Sekitar pukul 21.00 WIB, ambulans tiba di rumah duka di Desa Bate Raya, disambut oleh tangis keluarga dan tetangga yang telah menunggu dengan penuh duka.


"Alhamdulillah, jenazah sudah sampai dengan selamat di rumah duka. Saya merasa sangat terharu bisa membantu keluarga di tengah musibah ini. Ini bukan hanya tugas kemanusiaan, tapi juga panggilan jiwa," ujar Rahmat dengan suara lirih.


Sementara itu, Bupati Mukhlis dalam keterangannya menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan membiarkan satu pun warga Bireuen merasa sendirian saat mengalami musibah.


"Dalam situasi duka seperti ini, tidak ada yang lebih penting selain rasa kemanusiaan dan kepedulian. Tidak ada warga Bireuen yang akan kami biarkan terlantar. Setiap nyawa dan setiap jenazah adalah tanggung jawab kita semua."


Bupati juga mengapresiasi sinergi yang terjalin antara berbagai elemen masyarakat, khususnya RAPI Wilayah Bireuen, para relawan kemanusiaan seperti Nyakgok, serta jajaran pemerintah daerah. Menurutnya, kerja sama seperti inilah yang mencerminkan semangat gotong royong yang sesungguhnya, sebagaimana diwariskan oleh para pendiri bangsa.


"Kita harus hadir, bukan hanya saat pesta dan perayaan, tapi juga ketika air mata menetes di tengah kepergian. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang saling menopang saat badai datang," tambahnya.


Kisah kepulangan jenazah Khalidin bukan sekadar kabar duka biasa. Ini adalah potret nyata bagaimana solidaritas, kemanusiaan, dan kepemimpinan yang responsif bisa memberi ketenangan bagi keluarga yang berduka. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali individualistik, masih ada tangan-tangan yang terulur dari relawan komunikasi, supir ambulans, hingga seorang Bupati yang menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan belum mati.


Dan malam itu, di bawah langit Bireuen yang muram, Khalidin pun pulang ke kampung halamannya, diantar dengan penuh cinta dan kehormatan oleh orang-orang yang mungkin tak begitu ia kenal, tapi peduli sepenuh hati.