Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemerintah Aceh Pastikan Seluruh Sekolah Aktif Kembali Mulai 5 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026 | 15:17 WIB Last Updated 2026-01-01T08:17:13Z

Foto Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, SIP MPA.

 

Detikacehnews.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh memastikan seluruh aktivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) pada semester genap Tahun Ajaran 2025/2026 akan kembali berjalan secara serentak mulai 5 Januari 2026. Kepastian ini ditegaskan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjamin keberlangsungan hak pendidikan bagi seluruh anak Aceh, meskipun sejumlah wilayah masih terdampak bencana meteorologi berupa banjir dan tanah longsor.


Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa kondisi infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana tidak boleh menjadi alasan terhentinya layanan pendidikan. Menurutnya, pendidikan justru harus hadir sebagai ruang kepastian dan harapan bagi masyarakat, khususnya bagi peserta didik yang terdampak langsung.


Memang kita menghadapi tantangan besar di lapangan. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti. Sekolah harus tetap berjalan karena ia bukan hanya tempat belajar, tetapi juga bagian penting dari proses pemulihan pascabencana,” ujar M. Nasir dalam keterangannya, Senin (29/12/2025) yang dikutip dari Humas Aceh.


Berdasarkan data terbaru dari Posko Penanganan Bencana Meteorologi Pemerintah Aceh, tercatat sebanyak 214 unit SMA dari total 555 SMA di seluruh Aceh terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Dari jumlah tersebut, 78 unit sekolah dikategorikan mengalami kerusakan berat sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan secara normal.


Adapun wilayah dengan dampak paling signifikan meliputi Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang. Meski demikian, Pemerintah Aceh memastikan bahwa seluruh satuan pendidikan tetap dapat melaksanakan PBM melalui berbagai skema penyesuaian.


M. Nasir menambahkan, keberlanjutan aktivitas sekolah memiliki peran strategis, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pemulihan psikologis siswa yang mengalami trauma akibat bencana.


Kehadiran siswa di sekolah akan membantu mereka kembali ke ritme kehidupan yang normal. Ini merupakan bagian penting dari pemulihan psikologis dan sosial pascabencana,” tambahnya.


Sejalan dengan arahan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Meteorologi, Murthalamuddin, telah mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh kepala SMA di Aceh untuk memastikan PBM tetap berlangsung sesuai jadwal.


Bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat dan ruang kelasnya tidak dapat digunakan, kami instruksikan agar memanfaatkan sarana darurat atau tempat belajar sementara. PBM tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun,” tegas Murthalamuddin.


Ia menambahkan bahwa pihaknya telah meminta para kepala sekolah untuk berkoordinasi aktif dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah setempat dan masyarakat, guna memastikan tersedianya ruang belajar alternatif yang aman dan layak bagi siswa.


Lebih lanjut, Murthalamuddin menekankan bahwa pada masa awal masuk sekolah pascabencana, peran guru akan difokuskan tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pendamping psikososial bagi peserta didik. Pendekatan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran awal.


Guru saat ini memegang peran ganda, yakni sebagai pendidik sekaligus pendamping psikososial bagi siswa. Kami mendorong agar para guru tidak langsung membebani siswa dengan materi pelajaran yang berat, melainkan mengedepankan pendekatan persuasif, empatik, dan menenangkan,” jelasnya.


Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu siswa memulihkan semangat belajar, membangun kembali rasa aman, serta menumbuhkan motivasi untuk kembali beraktivitas secara normal di lingkungan sekolah.


Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Aceh berharap dunia pendidikan dapat tetap berjalan secara adaptif dan responsif terhadap situasi bencana, sekaligus menjadi pilar penting dalam membangun ketahanan sosial dan psikologis generasi muda Aceh.