Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

21 Tahun Damai Aceh, Jangan Biarkan Perdamaian Menjadi Sekadar Kenangan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:09 WIB Last Updated 2026-08-15T10:09:59Z

Penulis: Fakhrurrazi ZA, ST.Demisioner Sekjend BEM FT Unimal dan Wakil Ketua Kadin Bireuen


Detikacehnews.id | Bireuen - 15 Agustus bukan sekadar tanggal di kalender. Bagi Aceh, tanggal tersebut merupakan penanda penting perjalanan sejarah: sebuah momentum ketika senjata mulai digantikan oleh meja dialog, ketika ketakutan perlahan digantikan oleh harapan, dan ketika masyarakat Aceh memperoleh kesempatan untuk menatap masa depan dengan lebih tenang.

Peringatan 21 tahun MoU Helsinki bukan semata-mata kegiatan mengenang sebuah peristiwa bersejarah. Lebih dari itu, momentum Hari Damai Aceh setiap 15 Agustus seharusnya menjadi ruang untuk melakukan refleksi: sudah sejauh mana kita menjaga perdamaian yang telah diperjuangkan dengan begitu mahal, dan apa yang harus kita lakukan agar perdamaian tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu?

Damai tidak datang secara cuma-cuma. Ia lahir dari perjalanan panjang, dari luka, kehilangan, pengorbanan, serta keberanian berbagai pihak untuk menghentikan siklus kekerasan dan memilih jalan perundingan.

Karena itu, jika konflik memiliki harga yang sangat mahal, maka perdamaian pun membutuhkan biaya yang tidak kalah besar untuk dirawat.

Mengenang Agar Tidak Mengulang

Mengenang konflik Aceh bukan berarti mengajak masyarakat kembali hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Sebaliknya, mengenang adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang pernah kehilangan orang-orang tercinta, kehilangan harta benda, kehilangan kesempatan pendidikan, bahkan kehilangan masa depan akibat konflik.

Pada saat yang sama, mengenang merupakan tanggung jawab moral kepada generasi yang lahir setelah perdamaian.

Anak-anak Aceh hari ini tumbuh dalam suasana yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka pergi ke sekolah tanpa harus memikirkan suara tembakan. Mereka dapat menikmati pendidikan di kampus, berkumpul di kafe, beraktivitas di ruang publik, membangun usaha, serta terhubung dengan dunia melalui internet.

Bagi sebagian anak muda, kondisi tersebut mungkin terasa biasa. Padahal, kebebasan dan rasa aman yang mereka nikmati hari ini merupakan hasil dari sebuah perjalanan sejarah yang panjang.

Karena itu, sejarah perdamaian Aceh tidak boleh hilang dari ingatan generasi muda.

Monumen, museum, arsip, dokumentasi, dan kesaksian para penyintas harus terus dirawat. Bukan untuk menumbuhkan dendam, bukan pula untuk membuka kembali luka lama, tetapi agar generasi mendatang memahami bahwa kekerasan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan. Sejarah harus menjadi kompas moral.

Dengan memahami masa lalu, kita dapat belajar bahwa konflik pada akhirnya hanya meninggalkan kerugian bersama. Tidak ada masyarakat yang benar-benar menang ketika persaudaraan hancur, pembangunan terhenti, dan generasi muda kehilangan kesempatan untuk tumbuh.

Damai Bukan Sekadar Tidak Ada Perang

Namun, perdamaian tidak boleh dimaknai sebatas tidak adanya suara senjata.

Damai yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasakan keadilan, memperoleh kesempatan yang sama, memiliki masa depan yang layak, dan dapat menyampaikan perbedaan tanpa rasa takut.

Damai adalah ketika seorang petani di pedalaman Aceh merasa mendapatkan perlindungan hukum yang sama dengan masyarakat di perkotaan.

Damai adalah ketika anak-anak muda yang menyelesaikan pendidikan tinggi tidak selalu merasa harus meninggalkan Aceh karena tidak menemukan ruang untuk bekerja dan berkembang.

Damai juga adalah ketika perbedaan pilihan politik tidak membuat persaudaraan terputus, tidak membuat hubungan antartetangga renggang, dan tidak membuat perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan di tengah masyarakat.

Karena itu, pekerjaan merawat perdamaian harus bergerak dari sekadar seremoni menuju aksi nyata.
Ada setidaknya tiga pilar yang harus terus diperkuat.

Pertama, Memperkuat Kesejahteraan

Perdamaian akan lebih kokoh apabila masyarakat merasakan manfaat nyata dari pembangunan.

Otonomi khusus dan berbagai sumber daya yang dimiliki Aceh merupakan amanah yang harus dikelola untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat. Anggaran pembangunan harus benar-benar memberikan dampak bagi kehidupan rakyat: memperbaiki jalan desa, memperkuat pelayanan kesehatan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas beasiswa, mengembangkan UMKM, membuka lapangan kerja, serta memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman.

Kesejahteraan bukan hanya persoalan angka pertumbuhan ekonomi. Kesejahteraan adalah ketika masyarakat memiliki kepastian bahwa anak-anak mereka dapat sekolah, keluarga dapat memperoleh pelayanan kesehatan, dan generasi muda memiliki kesempatan untuk bekerja serta membangun usaha.

Ketika masyarakat memiliki masa depan yang jelas, ruang bagi munculnya frustrasi, keputusasaan, dan berbagai bentuk ekstremisme akan semakin sempit.

Karena itu, merawat damai juga berarti memastikan pembangunan tidak hanya terlihat di pusat kota, tetapi benar-benar dirasakan sampai ke pelosok gampong.

Kedua, Menghidupkan Kembali Budaya Dialog

Aceh memiliki tradisi sosial yang kuat dalam menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Nilai-nilai seperti peumulia jamee memuliakan tamu dan semangat hidup bermasyarakat merupakan modal sosial yang sangat berharga. Nilai tersebut harus kembali kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perkembangan media sosial, perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertengkaran. Perdebatan politik mudah berkembang menjadi saling mencaci. Perbedaan pilihan terkadang membuat hubungan persaudaraan menjadi renggang.

Padahal, berbeda pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam masyarakat demokratis.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai berbeda hati.

Kita boleh berdebat tentang gagasan, tetapi jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Kita harus mengembalikan budaya politik dari adu kekuatan menjadi adu gagasan, dari saling menjatuhkan menjadi saling mengingatkan, dan dari mempertajam perbedaan menjadi mencari titik temu.
Perdamaian tidak akan tumbuh dalam ruang yang dipenuhi kebencian.

Ketiga, Memberikan Estafet kepada Anak Muda
Generasi pascakonflik merupakan penerima warisan perdamaian sekaligus calon penjaganya.

Karena itu, anak muda Aceh tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penonton sejarah. Mereka harus dilibatkan sebagai pelaku pembangunan.

Anak muda harus diberi ruang dalam ekonomi kreatif, kewirausahaan, pendidikan, teknologi, kebudayaan, pemerintahan, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sejarah perdamaian juga harus diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan dunia mereka. Jangan hanya mengandalkan buku teks. Gunakan film, dokumenter, diskusi kampus, media sosial, podcast, karya seni, dan berbagai platform digital untuk menceritakan perjalanan Aceh menuju perdamaian.

Generasi muda harus memahami bahwa damai bukan sekadar warisan. Damai adalah tanggung jawab.

Mereka harus memiliki alasan untuk bangga terhadap Aceh dan alasan yang kuat untuk memilih tinggal, bekerja, serta membangun daerahnya sendiri.

Tantangan Perdamaian Telah Berubah Wajah

Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, tantangan terhadap perdamaian Aceh telah mengalami perubahan.

Jika dahulu ancaman utama datang dalam bentuk konflik bersenjata, hari ini tantangannya memiliki wajah yang berbeda.

Narkoba, kemiskinan ekstrem, korupsi, pengangguran, ketimpangan, intoleransi, disinformasi, hingga apatisme sosial dapat menjadi ancaman serius terhadap kualitas perdamaian.

Bahkan, salah satu musuh terbesar perdamaian adalah sikap merasa semuanya sudah selesai.

Ketika kita berpikir bahwa Aceh sudah aman dan karena itu tidak perlu lagi bekerja keras menjaga persaudaraan, di situlah kita mulai lengah.

Damai tidak pernah selesai.

Ia harus dirawat setiap hari.

Korupsi yang merampas hak masyarakat dapat merusak kepercayaan. Pengangguran yang membuat anak muda kehilangan harapan dapat menciptakan keresahan. Narkoba dapat menghancurkan masa depan generasi. Intoleransi dapat memecah masyarakat. Sementara ujaran kebencian dan informasi palsu di media sosial dapat membangun konflik baru tanpa harus menggunakan senjata.

Karena itu, menjaga perdamaian pada masa kini membutuhkan keberanian yang berbeda. Bukan keberanian mengangkat senjata, tetapi keberanian untuk jujur, berintegritas, berdialog, menghormati perbedaan, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Aceh Memiliki Modal Besar

Aceh telah menunjukkan kepada dunia bahwa konflik yang panjang bukan berarti tidak dapat diselesaikan.

Perjalanan menuju MoU Helsinki merupakan bagian penting dari sejarah perdamaian modern. Aceh memiliki pengalaman berharga bahwa ketika semua pihak memiliki kemauan politik untuk duduk bersama, membuka ruang dialog, dan mencari jalan keluar, konflik dapat dihentikan.

Pengalaman tersebut merupakan modal diplomasi dan modal moral yang sangat berharga. Namun, sejarah tidak boleh hanya menjadi kebanggaan. Ia harus menjadi pelajaran. Perdamaian yang diwariskan oleh generasi sebelumnya harus diterjemahkan menjadi pembangunan yang lebih adil, pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang lebih kuat, pemerintahan yang bersih, serta masyarakat yang semakin dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Dari Peringatan Menuju Aksi

Karena itu, peringatan Hari Damai Aceh setiap 15 Agustus jangan berhenti pada upacara, spanduk, seminar, atau ucapan seremonial.

Peringatan harus menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk merawat damai?

Bagi pemerintah, jawabannya adalah menghadirkan pembangunan yang adil, pelayanan publik yang berkualitas, pemerintahan yang transparan, serta kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.

Bagi dunia pendidikan, jawabannya adalah melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter, yang memahami sejarah dan mampu menyelesaikan perbedaan melalui dialog.

Bagi masyarakat, jawabannya adalah menjaga persaudaraan, menolak kekerasan, melawan narkoba, tidak mudah terprovokasi, serta membangun kembali budaya gotong royong.

Bagi anak muda, jawabannya adalah mengambil peran.

Jangan hanya bertanya apa yang dapat diberikan Aceh kepada kita. Tanyakan pula apa yang dapat kita berikan kepada Aceh.

Jika masing-masing pihak menjalankan perannya, maka perdamaian tidak hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi menjadi energi untuk membangun masa depan.

Damai Adalah Tanaman yang Harus Disiram Setiap Hari

Damai dapat diibaratkan seperti tanaman.
Pada 2005, para pendahulu kita bersama-sama menanamnya. Mereka menanam harapan setelah perjalanan panjang yang penuh luka. Hari ini, tugas kita adalah menyiram, memupuk, dan menjaganya dari berbagai hama yang dapat merusaknya.

Jika dibiarkan, tanaman itu dapat layu.
Jika dirawat, ia akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

Begitu pula dengan perdamaian Aceh.
Kita tidak cukup hanya bersyukur bahwa perang telah berakhir. Kita harus memastikan bahwa hasil perdamaian benar-benar melahirkan keadilan, kesejahteraan, kesempatan, dan masa depan.

Mari kita mengenang dengan khidmat.

Mari kita menghormati mereka yang pernah menjadi korban.

Mari kita belajar dari sejarah.

Namun yang paling penting, mari kita merawat perdamaian dengan kerja nyata.

Sebab Aceh yang damai, sejahtera, maju, dan bermartabat bukan hanya hadiah untuk generasi hari ini. Ia adalah warisan yang harus kita jaga agar dapat diterima dengan utuh oleh anak-anak Aceh di masa depan.

Aceh damai bukan karena kita berhenti mengingat. Aceh damai karena kita memilih untuk terus merawatnya setiap hari, melalui kerja, dialog, keadilan, dan persaudaraan.

Selamat Hari Damai Aceh. 15 Agustus bukan hanya tentang mengenang perdamaian, tetapi tentang memastikan perdamaian tetap hidup.