![]() |
| Dokumentasi foto bersama Relawan Universitas Almuslim usai membersihkan lumpur di SD N 11 Peusangan. |
Detikacehnews.id | Bireuen – Kepedulian terhadap dunia pendidikan kembali ditunjukkan oleh civitas akademika Universitas Almuslim (Umuslim). Relawan Universitas Almuslim yang berada di bawah binaan Satuan Tugas (Satgas) Bencana Hidrometeorologi Universitas Almuslim turun langsung membantu pembersihan lumpur banjir di SD Negeri 11 Peusangan, Kabupaten Bireuen, Rabu (7/1/2026).
Aksi kemanusiaan tersebut dilakukan sebagai respons atas dampak banjir yang mengakibatkan lumpur cukup tebal menggenangi sejumlah ruang kelas di sekolah tersebut. Kondisi itu menyebabkan aktivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) tidak dapat berlangsung secara normal dan memaksa pihak sekolah menggunakan ruang-ruang alternatif sebagai tempat belajar sementara.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Relawan Universitas Almuslim tampak bahu-membahu membersihkan lumpur di ruang kelas, lorong sekolah, serta area sekitar bangunan. Kegiatan pembersihan ini turut didampingi oleh Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Almuslim, Muslihin, M.Pd, dan Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi Pembangunan Universitas Almuslim, M. Saleh. Keduanya bahkan ikut turun langsung ke lapangan bersama mahasiswa, mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Almuslim, Muslihin, M.Pd, menyampaikan bahwa kehadiran relawan tidak hanya mengandalkan tenaga, tetapi juga didukung dengan perlengkapan yang memadai untuk mempercepat proses pembersihan.
“Relawan Universitas Almuslim yang turun ke lokasi membawa sejumlah peralatan seperti skrop, kereta sorong, serta mesin semprot. Peralatan ini kami siapkan agar proses pembersihan lumpur dapat berjalan lebih maksimal, sehingga sekolah bisa segera digunakan kembali untuk kegiatan belajar mengajar,” ujar Muslihin.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran karakter bagi mahasiswa agar memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar.
“Kami ingin mahasiswa Universitas Almuslim tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan kepekaan sosial. Ketika sekolah lumpuh akibat bencana, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk saling membantu,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Bencana Hidrometeorologi Universitas Almuslim, Dr. Afkar, M.Pd, menegaskan bahwa keterlibatan relawan kampus merupakan bagian dari komitmen Universitas Almuslim dalam penanggulangan serta pemulihan pascabencana, khususnya di sektor pendidikan.
“Sekolah merupakan fasilitas vital. Jika ruang belajar tidak segera dibersihkan, dampaknya akan sangat panjang terhadap proses pendidikan anak-anak. Oleh karena itu, Satgas bersama relawan mahasiswa bergerak cepat agar PBM dapat kembali berjalan normal,” jelas Dr. Afkar.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi bencana, termasuk sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd, turut memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan unsur yang terlibat dalam aksi sosial tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan implementasi nyata nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Kami sangat bangga dengan kepedulian mahasiswa dan dosen Universitas Almuslim. Kehadiran relawan di tengah masyarakat saat terjadi bencana adalah wujud komitmen kampus untuk terus hadir dan memberi manfaat. Universitas Almuslim akan senantiasa mendorong gerakan-gerakan kemanusiaan seperti ini,” ungkap Dr. Marwan.
Di sisi lain, Kepala SD Negeri 11 Peusangan, Anidar, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Relawan Universitas Almuslim. Ia mengungkapkan bahwa kondisi sekolah pascabanjir memang cukup memprihatinkan, terutama akibat lumpur yang menutupi hampir seluruh ruang kelas.
“Lumpur menggenangi hampir semua ruang kelas dengan ketebalan yang cukup signifikan. Kehadiran relawan Universitas Almuslim sangat membantu kami dalam mempercepat proses pembersihan sekolah,” ujar Anidar.
Ia menjelaskan bahwa sejak sekolah kembali aktif pada Senin (5/1/2026), pihak sekolah terpaksa melaksanakan PBM di ruang guru, musholla, dan aula sekolah yang telah dibersihkan lebih awal. Ruang-ruang tersebut difungsikan sebagai tempat belajar darurat demi memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Salah seorang guru di SD Negeri 11 Peusangan turut menggambarkan kondisi pembelajaran yang berlangsung secara sederhana di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
“Jumlah siswa di sekolah ini sekitar 50 orang. Mereka mengikuti pembelajaran dengan beralaskan tikar sederhana tanpa meja. Bagi kami, yang terpenting adalah PBM tetap berjalan meskipun dalam kondisi yang sangat terbatas,” tuturnya.
Dengan adanya bantuan pembersihan dari Relawan Universitas Almuslim, pihak sekolah berharap seluruh ruang kelas dapat segera difungsikan kembali sehingga siswa dapat belajar dengan lebih layak, aman, dan nyaman. Aksi sosial ini sekaligus menjadi simbol kuatnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar dalam menghadapi dampak bencana alam serta menjaga keberlangsungan dunia pendidikan.
