Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dipimpin dr. Zumirda, Sunat Massal Gratis FK Umuslim Gunakan Teknik Dorsumsisi Aman Perspektif Ahli Bedah

Minggu, 15 Februari 2026 | 20:18 WIB Last Updated 2026-02-15T13:18:28Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen - Kegiatan sunat massal gratis yang dilaksanakan pada Minggu, 15 Februari 2026, sejak pagi hari di kawasan Peusangan, Kabupaten Bireuen, menjadi wujud kepedulian kalangan akademisi kesehatan terhadap masyarakat terdampak banjir sekaligus menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Program sosial kesehatan tersebut digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim bekerja sama dengan Forum Dakwah Perbatasan bagi 70 anak dari keluarga terdampak banjir di Kabupaten Bireuen dengan melibatkan tenaga medis profesional serta dukungan berbagai pihak.


Pelaksanaan khitanan dilakukan oleh tim medis profesional yang sebagian besar merupakan dokter bedah. Proses tindakan dilaksanakan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) serta Respiratory Intensive Care Unit (RICU) fakultas kedokteran setempat, dengan penerapan standar medis dan keselamatan pasien secara ketat agar prosedur berlangsung aman dan nyaman bagi anak-anak peserta.


Kegiatan ini dipimpin langsung oleh dr. Zumirda, Sp.B-ET, FISA, FINACS selaku dekan fakultas sekaligus dokter ahli bedah. Dalam pelaksanaannya, ia menekankan pentingnya standar keselamatan medis dengan menginstruksikan para dokter operator menggunakan teknik dorsumsisi yang aman sesuai perspektif ahli bedah modern.


Menurutnya, pemilihan teknik tersebut didasarkan pada pertimbangan medis yang matang, terutama terkait efektivitas tindakan, ketepatan prosedur, serta upaya meminimalkan risiko komplikasi pada pasien anak. Ia menegaskan bahwa kegiatan sosial kesehatan tetap harus mengedepankan standar profesi yang sama dengan pelayanan medis formal.


Tidak hanya memberikan arahan, ia juga turun langsung melakukan tindakan khitan kepada sejumlah peserta. Kehadiran dokter spesialis bedah secara langsung dalam kegiatan bakti sosial tersebut memberikan rasa aman bagi orang tua sekaligus memastikan prosedur berjalan profesional, higienis, dan sesuai standar kedokteran.


Ia menjelaskan teknik dorsumsisi merupakan salah satu metode sirkumsisi modern yang banyak digunakan dalam praktik bedah karena dinilai efektif, presisi, dan relatif aman apabila dilakukan sesuai standar medis. Metode ini diawali dengan sayatan terkontrol pada bagian atas kulup (preputium) untuk membuka akses tindakan secara lebih jelas, sehingga dokter dapat melakukan pemotongan jaringan dengan ketelitian tinggi serta meminimalkan risiko perdarahan.


Dalam perspektif ahli bedah seperti yang diterapkan oleh dr. Zumirda, teknik dorsumsisi menekankan prinsip sterilisasi ketat, penggunaan anestesi yang tepat, serta kontrol jaringan yang baik selama prosedur berlangsung. Hal ini penting untuk menjaga kenyamanan pasien, mempercepat proses penyembuhan, serta menekan kemungkinan komplikasi pascatindakan.


Selain aspek teknis, metode dorsumsisi juga memungkinkan proses khitan berlangsung lebih sistematis, terutama pada kegiatan sosial berskala besar seperti sunat massal. Dengan visualisasi jaringan yang lebih jelas, dokter dapat bekerja lebih akurat, sementara pasien memperoleh hasil tindakan yang rapi serta pemulihan yang umumnya lebih cepat apabila perawatan pascatindakan dijalankan dengan baik.


Pendekatan ini mencerminkan standar praktik bedah modern yang tidak hanya menitikberatkan keberhasilan tindakan, tetapi juga keselamatan pasien, aspek higienitas, serta edukasi kepada keluarga mengenai perawatan luka setelah khitan.


Selain aspek medis, kegiatan sunat massal ini juga memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan. Sebagian besar peserta merupakan anak-anak dari keluarga terdampak banjir yang masih menghadapi tekanan ekonomi. Dengan adanya layanan khitan gratis, diharapkan keluarga dapat terbantu sekaligus anak-anak memperoleh pengalaman positif menjelang Ramadan.


Pihak fakultas menilai kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan kedokteran. Kehadiran tenaga medis akademisi di tengah masyarakat, khususnya pascabencana, tidak hanya memberikan layanan kesehatan tetapi juga edukasi serta dukungan moral bagi masyarakat.


Sebelumnya, para tenaga medis telah mengikuti pelatihan Training of Trainer (ToT) teknik dorsumsisi yang aman menurut perspektif ahli bedah. Pelatihan ini bertujuan memberikan penyamaan persepsi, penguatan kompetensi teknis, serta briefing medis guna memastikan prosedur khitan massal berlangsung aman, efektif, dan sesuai standar kedokteran modern.


Dalam pelatihan tersebut, dokter dibekali pemahaman mengenai sterilisasi alat, ketepatan teknik sayatan, penggunaan anestesi yang tepat, hingga edukasi pascatindakan untuk meminimalkan risiko komplikasi.


Melalui kegiatan tersebut, fakultas kedokteran berharap sinergi antara dunia akademik, tenaga medis, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Program sosial kesehatan semacam ini juga diharapkan menjadi inspirasi berkelanjutan dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, profesional, dan berorientasi pada kemanusiaan.