Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rusyidi Mukhtar Wakili Wali Nanggroe, Sampaikan Amanah Malik Mahmud Al‑Haythar pada Peringatan Tragedi Idi Cut–Arakundoe

Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:06 WIB Last Updated 2026-02-14T07:06:08Z


 
Detikacehnews.id | Aceh Timur — Wakil Ketua Komisi I DPR Aceh, Rusyidi Mukhtar, S.Sos yang akrab disapa Ceulangiek, menghadiri doa bersama dan peringatan Tragedi Idi Cut–Arakundoe ke-27, Sabtu (14/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia hadir mewakili Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, sekaligus menyampaikan amanah resmi kepada masyarakat Aceh yang hadir pada kegiatan reflektif tersebut.


Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Simpang Kuala Idi Cut serta kawasan Jembatan Arakundoe, Kabupaten Aceh Timur itu dihadiri unsur pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi sipil, keluarga korban, pemuda, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Acara diselenggarakan oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan elemen masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap korban tragedi kemanusiaan tersebut.


Dalam amanah tertulis yang dibacakan Ceulangiek, Wali Nanggroe menegaskan bahwa peringatan tragedi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi kolektif untuk menjaga ingatan sejarah dan meneguhkan komitmen kemanusiaan.


Pesan tersebut mengajak masyarakat Aceh untuk menundukkan hati, mendoakan para syuhada dan seluruh korban yang telah mendahului, serta memperkuat tekad menjaga perdamaian dan martabat kemanusiaan di Tanah Rencong. Ingatan terhadap masa lalu disebut sebagai “cahaya yang tidak boleh dipadamkan”, karena dari ingatan itulah lahir kesadaran agar tragedi serupa tidak terulang.


Dalam pidato tersebut juga disampaikan bahwa Aceh pernah melalui masa-masa kelam dengan luka kemanusiaan mendalam. Namun sejarah itu harus menjadi pelajaran, bukan sumber kebencian. Aceh, ditegaskan, dibangun bukan oleh rasa takut, melainkan oleh keberanian untuk bangkit menuju peradaban yang lebih bermartabat.


Amanah Wali Nanggroe turut memuat doa khusus bagi para korban konflik, termasuk korban Tragedi Idi Cut–Arakundoe, serta masyarakat yang wafat akibat bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh pada 2025. Semua korban dipandang sebagai bagian dari luka kemanusiaan yang harus dikenang dengan penghormatan dan doa.


Wali Nanggroe juga menekankan bahwa pembangunan Aceh harus memperhatikan keseimbangan lingkungan dan keadilan sosial agar tidak melahirkan penderitaan baru. Pembangunan berkelanjutan dan kepedulian terhadap generasi mendatang menjadi pesan penting dalam amanah tersebut.


Salah satu bagian penting amanah yang dibacakan Ceulangiek adalah pesan khusus kepada generasi muda Aceh. Mereka diingatkan agar tidak mewarisi kebencian masa lalu, melainkan mewarisi keberanian untuk menjaga kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan mempertahankan perdamaian.


Sejarah konflik Aceh, menurut pesan tersebut, harus menjadi pelajaran agar kesalahan serupa tidak terulang. Generasi muda diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan, bukan pembawa dendam.


Peringatan tragedi tahun ini mengusung tema “Merawat Ingatan, Menegakkan Kemanusiaan, dan Menolak Keberulangan: Memperkokoh Ukhuwah dan Martabat Bangsa dalam Bingkai Perdamaian yang Berkeadilan.


Rangkaian kegiatan meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan Shalawat Badar oleh Muhammad Yunus, laporan panitia oleh Ketua Panitia Faisal Rizal Hasan, sambutan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh yang disampaikan Masthur Yahya, sambutan Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, tahlilan bersama yang dipimpin Abu Rih Julok, tausiah perdamaian dan doa oleh Muhammad Yunus M Yusuf selaku Ketua Badan Baitul Mal Aceh, serta penyantunan keluarga korban Tragedi Arakundoe sebagai bentuk kepedulian dan penghormatan kepada para korban.


Suasana acara berlangsung khidmat dan penuh haru. Para ulama, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, serta keluarga korban larut dalam doa dan refleksi. Ceulangiek menegaskan kehadirannya merupakan bentuk tanggung jawab moral dalam menjalankan amanah Wali Nanggroe sekaligus penghormatan terhadap sejarah Aceh.


Di akhir amanah, Wali Nanggroe menegaskan bahwa Aceh adalah tanah kehormatan, bukan tanah kebencian. Melalui doa, refleksi, dan komitmen bersama, masyarakat diharapkan terus menjaga perdamaian, menegakkan keadilan, dan merawat ingatan sejarah sebagai fondasi pembangunan Aceh yang bermartabat.


Peringatan Tragedi Idi Cut–Arakundoe ke-27 pun menjadi pengingat bahwa dari luka sejarah dapat lahir kekuatan baru — kekuatan untuk merawat kemanusiaan, menjaga persatuan, serta memastikan masa depan Aceh tetap damai, adil, dan berkeadaban.