Detikacehnews.id | Bireuen — Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim, dr. Zumirda, yang juga menjabat Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Bireuen, menjadi narasumber utama dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) Teknik Dorsumsisi yang Aman Menurut Perspektif Ahli Bedah. Kegiatan tersebut digelar Sabtu, 14 Februari 2026, di ruang rapat kampus Universitas Almuslim.
Pelatihan ini dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan khitanan massal Fakultas Kedokteran yang dijadwalkan berlangsung sehari setelahnya, yakni Minggu, 15 Februari 2026. Selain sebagai pembekalan teknis, kegiatan tersebut juga menjadi forum briefing, penyamaan persepsi, serta penguatan koordinasi lintas tenaga medis agar pelaksanaan kegiatan sosial kesehatan dapat berjalan aman, profesional, dan sesuai standar praktik kedokteran modern.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Owner Bireuen Medical Center, dr Abri Hatinsyah, yang juga Ketua Senat Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim. Dalam kesempatan itu, ia memberikan masukan praktis terkait pentingnya menjaga standar keselamatan pasien, memperkuat koordinasi tim medis, serta memastikan kesiapan fasilitas pendukung selama pelaksanaan khitanan massal. Sejumlah dokter senior dari berbagai institusi kesehatan serta mahasiswa Fakultas Kedokteran juga ikut hadir mengikuti pembekalan tersebut.
Dalam paparannya, dr. Zumirda menjelaskan bahwa teknik dorsumsisi merupakan salah satu metode sirkumsisi yang banyak digunakan dalam praktik medis karena dinilai efektif dan relatif aman bila dilakukan sesuai prosedur. Teknik ini dilakukan dengan membuat sayatan terkontrol pada bagian dorsal preputium untuk membuka akses pelepasan kulup secara presisi, sehingga trauma jaringan dapat diminimalkan dan risiko komplikasi lebih terkendali.
Ia menegaskan bahwa keamanan prosedur tidak hanya ditentukan oleh teknik sayatan semata. Faktor sterilisasi alat, ketepatan pemberian anestesi, pemahaman anatomi, serta keterampilan operator menjadi aspek yang sangat menentukan keberhasilan tindakan. Selain itu, edukasi pasca tindakan kepada pasien dan keluarga juga penting guna mencegah infeksi, perdarahan, maupun komplikasi lain setelah sirkumsisi.
Menurutnya, pendekatan bedah modern tidak lagi hanya berfokus pada keberhasilan tindakan secara teknis, tetapi juga memperhatikan kenyamanan pasien, percepatan proses penyembuhan, serta keselamatan jangka panjang. Oleh karena itu, pelatihan seperti ToT dinilai strategis untuk memastikan seluruh tenaga medis memiliki standar kompetensi yang seragam, khususnya dalam kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat berskala besar.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim berharap sinergi antara institusi pendidikan kedokteran, praktisi medis, serta fasilitas layanan kesehatan semakin kuat. Selain meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pelaksanaan khitanan massal yang aman, profesional, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
.jpg)