Detikacehnews.id | Bireuen - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Bupati Bireuen, H. Mukhlis ST menunjukkan kepedulian sosial dengan cara yang berbeda. Ia turun langsung ke lokasi pengungsian di Alue Kuta, Kecamatan Jangka untuk merayakan tradisi Meugang bersama masyarakat terdampak, bahkan ikut memasak daging kuah merah khas Aceh di dapur umum.
Kehadiran kepala daerah di tengah pengungsi tidak sekadar simbolis. Dengan mengenakan pakaian sederhana, Bupati Mukhlis tampak aktif meracik bumbu, mengaduk kuali besar, hingga memastikan proses memasak berjalan lancar. Hidangan kuah merah berbahan daging sapi yang dimasak bersama tersebut kemudian dinikmati secara bersama-sama dalam suasana penuh kehangatan.
Kabupaten Bireuen sendiri dikenal memiliki tradisi Meugang yang kuat, yakni memasak dan menikmati daging bersama keluarga atau masyarakat menjelang Ramadan. Tradisi ini menjadi simbol syukur, solidaritas sosial, serta upaya menjaga silaturahmi antarsesama.
Menariknya, kegiatan memasak tersebut bukan hal baru bagi bupati. Ia diketahui memiliki hobi memasak, bahkan terbiasa menyiapkan hidangan dalam kapasitas besar, termasuk masakan kuah merah berbahan daging sapi maupun kambing. Pengalaman itu membuatnya terlihat luwes saat berada di dapur umum bersama para pengungsi dan relawan.
Dalam keterangannya, Bupati Mukhlis menegaskan bahwa kehadirannya bertujuan memastikan warga pengungsi tetap bisa merasakan semarak tradisi Meugang meskipun sedang berada dalam kondisi sulit. Ia berharap momentum tersebut dapat menumbuhkan semangat kebersamaan dan optimisme menjelang bulan suci.
“Ramadan adalah bulan berkah dan kebersamaan. Kami ingin saudara-saudara kita di pengungsian tetap merasakan suasana Meugang seperti biasanya. Kebersamaan ini semoga menjadi penguat hati sekaligus penyemangat dalam menghadapi masa-masa sulit,” ujar H. Mukhlis di sela-sela memasak daging meugang di lokasi pengungsian, Selasa (17/2/2026).
Tradisi Meugang sendiri telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh, khususnya dalam menyambut Ramadan, Idulfitri, maupun Iduladha. Momentum tersebut tidak hanya bermakna kuliner, tetapi juga memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat.
Acara kemudian ditutup dengan makan bersama antara bupati, warga pengungsi, relawan, serta unsur masyarakat setempat. Tanpa sekat formalitas, semua menikmati hidangan kuah merah daging Meugang yang dimasak bersama. Suasana kekeluargaan tampak begitu terasa, menghadirkan harapan serta semangat baru bagi warga pengungsian dalam menyongsong ibadah puasa.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kepedulian sosial, empati, dan kebersamaan tetap menjadi nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat, terutama menjelang Ramadan yang identik dengan solidaritas, kepedulian, dan penguatan silaturahmi.
