![]() |
| Goresan Pena: Nurul Aini, S.Pd., M.A.P. (Kepala SMAN 1 Kuala Kab. Bireuen) |
Detikacehnews.id | Tajuk - Ada beberapa pertemuan dalam hidup yang hanya berlangsung singkat, tetapi meninggalkan jejak yang sangat panjang di hati. Begitulah kenangan saya saat pertama kali dipromosikan menjadi kepala SMA. Hari itu seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan dalam perjalanan hidup saya, namun di balik kebahagiaan itu tersimpan kegelisahan yang begitu besar. Saya harus mempresentasikan visi, misi, serta curriculum vitae di hadapan Sekretaris Daerah Aceh dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Jantung terasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat rasa percaya diri sesekali goyah.
Di tengah suasana penuh ketegangan itu, hadir seorang sosok yang tidak pernah saya sangka akan meninggalkan kesan begitu mendalam dalam hidup saya. Dengan langkah tenang dan senyum penuh ketulusan, beliau menghampiri kami satu per satu. Beliau memperkenalkan diri sebagai Kepala Cabang Dinas Wilayah Kabupaten Bireuen yang baru dimutasi. Nama beliau Adalah Bapak Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd
Saat itu saya hanya berpikir sederhana, "Jika saya lulus dan dilantik menjadi kepala sekolah, berarti beliau akan menjadi atasan saya." Namun siapa sangka, pertemuan pertama itu justru menghadirkan rasa haru yang hingga hari ini masih membekas begitu dalam.
Beliau sangat berbeda.
Tidak ada jarak yang sengaja diciptakan. Tidak ada sikap tinggi hati karena jabatan yang beliau miliki. Sebaliknya, beliau memilih duduk bersama kami, berbicara dengan penuh keramahan, mencairkan suasana, dan membuat kami merasa seperti keluarga sendiri. Dalam situasi yang penuh tekanan, beliau hadir sebagai penenang. Beliau memahami kegelisahan kami bahkan sebelum kami sempat mengungkapkannya.
Ketika waktu terus berjalan dan kami tidak sempat mencari makan karena sibuk menunggu giliran presentasi, beliau diam-diam telah menyiapkan nasi bungkus untuk kami. Tanpa diminta. Tanpa ingin dipuji. Ketika rasa haus mulai terasa, air mineral pun sudah tersedia di dekat kami.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah nasi bungkus dan sebotol air mineral. Namun bagi kami yang sedang berada dalam ketegangan dan kecemasan, perhatian kecil itu terasa begitu besar. Saat itu kami merasa tidak sedang bersama seorang pejabat, melainkan bersama sosok seorang ayah yang dengan tulus mendampingi anak-anaknya agar berhasil melewati ujian hidup.
Saya masih mengingat bagaimana peserta dari kabupaten lain memandang kami dengan rasa iri. Mereka melihat bagaimana kami selalu ditemani, dibimbing, dan diperhatikan oleh calon atasan kami. Bahkan beberapa di antara mereka secara langsung mengatakan betapa beruntungnya kami memiliki sosok seperti beliau.
Dan memang benar... kami sangat beruntung. Karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu dengan pemimpin yang memiliki hati sebesar itu. Pemimpin yang tidak hanya hadir dengan jabatan, tetapi hadir dengan kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan.
Hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun kehangatan yang beliau berikan telah menetap bertahun-tahun di dalam hati kami.
Melalui tulisan sederhana ini, izinkan saya dan teman-teman menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Abdul Hamid. "Terima kasih karena telah mengajarkan kepada kami bahwa menjadi pemimpin sejati bukanlah tentang dihormati karena jabatan, tetapi tentang dicintai karena ketulusan".
Terima kasih karena di tengah ketegangan dan ketakutan kami saat itu, Bapak hadir membawa ketenangan.
Terima kasih karena perhatian kecil yang Bapak berikan ternyata menjadi kenangan besar yang tidak akan pernah kami lupakan.
Semoga Allah membalas setiap kebaikan Bapak dengan keberkahan, kesehatan, dan kemuliaan hidup. Dan semoga semakin banyak pemimpin yang belajar dari ketulusan hati seorang Abdul Hamid.
Bingkisan Cerita Kenangan Banda Aceh Januari 2022.
Lhok Awe-Awe, 17 Mei 2026
