Detikacehnews.id | Bireuen - Dosen Pascasarjana Universitas Almuslim, Dr. Iskandar, MA, dipercaya menjadi khatib pada pelaksanaan Shalat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang berlangsung di Darussa’adah Meureubo, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, Rabu, 27 Mei 2026.
Dalam khutbahnya yang bertajuk “Hikmah Kurban: Menumbuhkan Ikhlas, Taqwa, dan Ketangguhan Mental”, Dr. Iskandar menyampaikan pesan mendalam tentang nilai-nilai pengorbanan dalam Islam yang tidak hanya dimaknai melalui penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai proses membentuk karakter dan kepribadian seorang muslim.
Di hadapan jamaah salat Id yang memadati lokasi pelaksanaan ibadah, ia menegaskan bahwa Idul Adha merupakan momentum penting untuk menumbuhkan keikhlasan dalam setiap amal. Menurutnya, ikhlas adalah ruh dari seluruh ibadah yang dilakukan manusia.
Dalam khutbah tersebut, Dr. Iskandar mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapai-Nya." (QS. Al-Hajj: 37).
Ayat tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa yang dinilai Allah bukanlah bentuk lahiriah ibadah, melainkan ketulusan hati dan niat seorang hamba dalam beramal.
“Kurban mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari riya’, sum’ah, dan ujub. Ketika seseorang berkurban, sejatinya ia sedang belajar menyembelih ego dan kecintaan berlebihan terhadap dunia,” ungkapnya.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim No. 2564).
Selain membahas pentingnya keikhlasan, Dr. Iskandar turut menekankan bahwa tujuan utama ibadah adalah membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa taqwa merupakan kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui seluruh perbuatan manusia.
Dalam penjelasannya, ia mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai teladan tertinggi tentang kepatuhan dan ketaatan kepada Allah SWT. Ia kemudian membacakan firman Allah dalam Surah As-Saffat ayat 102:
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat: 102).
Menurut Dr. Iskandar, sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan gambaran nyata bagaimana keimanan dan taqwa mampu melahirkan ketundukan total kepada Allah meskipun harus menghadapi ujian yang sangat berat.
“Taqwa adalah benteng kehidupan. Orang yang bertaqwa akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat karena merasa selalu diawasi Allah SWT,” ujarnya.
Dalam khutbah tersebut, Dr. Iskandar juga menyoroti pentingnya membangun ketangguhan mental di tengah tantangan kehidupan modern. Ia menilai masyarakat saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari persoalan ekonomi, derasnya arus informasi, hingga ketidakpastian masa depan yang kerap memicu kecemasan dan keputusasaan.
Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan bahwa ketangguhan mental lahir dari iman dan sikap berserah diri kepada Allah SWT. Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah As-Saffat ayat 103-105:
"Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, lalu Kami panggil dia: 'Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. As-Saffat: 103-105).
Ia juga membacakan hadis Rasulullah SAW:
"Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika diberi nikmat ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, itu juga baik baginya." (HR. Muslim No. 2999).
Menurutnya, mental yang tangguh akan lahir ketika seseorang memiliki keyakinan bahwa setiap ujian kehidupan mengandung hikmah dan pertolongan dari Allah SWT.
Tidak hanya menyoroti aspek spiritual dan mental, Dr. Iskandar turut mengingatkan jamaah tentang pentingnya kepedulian sosial dalam ibadah kurban. Ia menjelaskan bahwa pembagian daging kurban kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat merupakan bentuk nyata solidaritas dan penguatan ukhuwah Islamiyah.
Dalam khutbahnya, ia kembali mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 36:
"Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta." (QS. Al-Hajj: 36).
Menurutnya, semangat berbagi yang diajarkan Idul Adha harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta masyarakat yang saling peduli dan saling menguatkan.
Menutup khutbahnya, Dr. Iskandar mengajak seluruh jamaah menjadikan Idul Adha sebagai momentum untuk memperbaiki diri dengan “menyembelih” sifat-sifat buruk seperti kikir, malas, dan mudah berputus asa. Ia juga mengingatkan bahwa seluruh kehidupan manusia sejatinya hanya dipersembahkan untuk Allah SWT.
Ia kemudian menutup khutbah dengan membacakan firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 162:
"Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An’am: 162).
Khutbah yang disampaikan Dr. Iskandar tersebut berlangsung khidmat dan mendapat perhatian serius dari jamaah karena dinilai relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini, sekaligus memberikan penguatan spiritual agar umat Islam tetap ikhlas, bertaqwa, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman.
