![]() |
| Penulis: Refan Pradana, Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Almuslim. |
Detikacehnews.id | Artikel - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan saluran irigasi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Di berbagai daerah, kebiasaan membuang sampah ke sungai maupun saluran irigasi masih sering ditemukan. Padahal, tindakan yang dianggap sepele tersebut dapat memicu berbagai persoalan serius yang dampaknya kembali dirasakan oleh masyarakat sendiri.
Saluran irigasi sejatinya bukan tempat pembuangan akhir. Irigasi memiliki fungsi vital sebagai jalur distribusi air bagi pertanian sekaligus penyeimbang tata air lingkungan. Ketika saluran ini dipenuhi sampah, aliran air menjadi tersumbat dan tidak lagi berjalan normal. Akibatnya, genangan dan banjir mudah terjadi, terutama saat curah hujan meningkat. Tidak hanya permukiman warga yang terdampak, lahan pertanian pun ikut mengalami gangguan pengairan yang berujung pada menurunnya produktivitas sawah dan kerugian ekonomi bagi petani.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik menjadi jenis limbah yang paling banyak mencemari saluran irigasi di Indonesia. Selain plastik, ditemukan pula popok sekali pakai, pecahan kaca, logam, hingga bangkai hewan yang mencemari aliran air. Penumpukan limbah tersebut tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga memicu berkembangnya bakteri, menurunkan kualitas air, menimbulkan bau tidak sedap, dan menciptakan lingkungan yang kumuh serta tidak sehat.
Fenomena ini menggambarkan pola pikir yang masih keliru, yakni “out of sight, out of mind”. Banyak orang menganggap sampah yang dibuang ke sungai akan hilang begitu saja setelah terbawa arus. Padahal kenyataannya, sampah itu hanya berpindah tempat dan suatu saat kembali menjadi ancaman dalam bentuk banjir, pencemaran lingkungan, kerusakan ekosistem, hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Lebih jauh lagi, pencemaran saluran irigasi juga dapat memicu konflik sosial. Ketika fungsi pengairan terganggu, petani menjadi pihak yang paling terdampak. Distribusi air yang tidak lancar dapat menimbulkan perselisihan antarwarga maupun antarwilayah karena kebutuhan air pertanian tidak terpenuhi dengan baik.
Karena itu, menjaga kebersihan saluran air tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Permasalahan lingkungan membutuhkan kesadaran dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Perubahan perilaku menjadi langkah paling mendasar dalam menyelesaikan persoalan ini.
Edukasi lingkungan perlu terus diperkuat, disertai penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun kesadaran kolektif untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Langkah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan ikut menjaga kebersihan saluran air dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan.
Pada akhirnya, menjaga saluran irigasi tetap bersih bukan sekadar persoalan kebersihan. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta keberlangsungan lingkungan bagi generasi mendatang.

