Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wakil Bupati Bireuen Buka Lokakarya Refleksi Proyek ARISE, Dorong Penguatan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana

Kamis, 04 Juni 2026 | 17:59 WIB Last Updated 2026-06-04T10:59:29Z


Detikacehnews.id | Bireuen - Wakil Bupati Bireuen, Ir. H. Razuardi, MT secara resmi membuka kegiatan Lokakarya Refleksi dan Pembelajaran Proyek ARISE (Aceh Relief and Integrated Support in Emergencies) yang berlangsung di Aula Hotel Fajar, Bireuen, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Foundasi Hidup (FH) Indonesia bersama YAKKUM Emergency Unit (YEU) sebagai bagian dari evaluasi dan pembelajaran atas pelaksanaan program penanganan dampak bencana di Kabupaten Bireuen.

Kegiatan ini dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Bank Aceh Cabang Bireuen, Ketua TP-PKK Kabupaten Bireuen, sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), Camat Jeumpa, Peusangan, dan Kuta Blang, serta para keuchik dari gampong-gampong dampingan program ARISE.

Lokakarya tersebut menjadi wadah bagi seluruh pemangku kepentingan untuk merefleksikan berbagai capaian, tantangan, serta praktik-praktik baik yang telah dilakukan selama pelaksanaan proyek ARISE dalam membantu masyarakat terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir tahun 2025.

Direktur Nasional Yayasan Foundasi Hidup Indonesia, Effendy Aritonang, dalam sambutannya menjelaskan bahwa proyek ARISE dirancang untuk membantu masyarakat miskin dan kelompok rentan yang terdampak bencana alam. Program ini merupakan bentuk respons kemanusiaan yang mengedepankan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan.

Menurutnya, proyek ARISE hadir sebagai respons cepat terhadap bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025. Melalui dukungan berbagai pihak, masyarakat terdampak dapat segera memperoleh bantuan dan pendampingan dengan mengoptimalkan potensi serta sumber daya yang tersedia di tingkat lokal.

Melalui kerja sama yang baik antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat, berbagai kebutuhan mendesak warga terdampak dapat ditangani secara efektif. Hal ini menjadi bukti bahwa kolaborasi merupakan kunci utama dalam upaya penanggulangan bencana,” ujar Effendy.

Sementara itu, Wakil Bupati Bireuen dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada FH Indonesia dan YEU atas komitmen, kepedulian, serta dedikasi mereka dalam mendampingi masyarakat Bireuen selama masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan pascabencana.

Ia menilai kehadiran berbagai lembaga kemanusiaan telah memberikan kontribusi nyata dalam membantu pemerintah daerah mempercepat proses pemulihan masyarakat yang terdampak bencana.

"Melalui forum partisipatif ini, saya berharap seluruh pemangku kepentingan mulai dari tingkat gampong, kecamatan, hingga dinas kabupaten dapat memanfaatkan momentum ini untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, serta pembelajaran yang diperoleh selama pelaksanaan program,” ujar Razuardi.

Menurutnya, setiap bencana yang terjadi selalu menyimpan pelajaran berharga yang perlu didokumentasikan dan dijadikan dasar dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan di masa mendatang. Oleh karena itu, hasil-hasil diskusi dan refleksi yang lahir dari lokakarya ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi prioritas yang realistis, aplikatif, dan mudah ditindaklanjuti.

Rekomendasi tersebut tidak hanya penting bagi penguatan kapasitas internal FH Indonesia dan YEU dalam menjalankan program-program kemanusiaan ke depan, tetapi juga menjadi masukan yang sangat berharga bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam menyusun strategi kesiapsiagaan serta membangun sistem penanggulangan bencana yang berbasis pada ketangguhan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wakil Bupati menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat sinergi yang telah terjalin selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Ia menyebut keberhasilan penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, sektor perbankan, akademisi, media massa, hingga masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor harus terus dipelihara agar kapasitas daerah dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang semakin kuat dan terintegrasi.

Diketahui, Proyek ARISE mulai dilaksanakan sejak 17 Desember 2025 sebagai respons terhadap bencana banjir hidrometeorologi dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen. Program ini meliputi penyaluran Bantuan Non-Tunai Multiguna (BaNTu Guna) bagi masyarakat terdampak di Kecamatan Peusangan dan Jeumpa, serta bantuan sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di Kecamatan Kuta Blang.

Selama masa implementasi, program ARISE telah berupaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, memperbaiki akses terhadap layanan air bersih dan sanitasi, serta memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.

Program yang dijadwalkan berakhir pada 16 Juni 2026 tersebut diharapkan meninggalkan berbagai pembelajaran penting dan praktik baik yang dapat direplikasi dalam upaya penanggulangan bencana di Kabupaten Bireuen maupun daerah lainnya di Aceh.

Melalui lokakarya refleksi ini, seluruh pihak yang terlibat berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta membangun ketangguhan masyarakat agar mampu menghadapi berbagai ancaman bencana secara lebih efektif dan berkelanjutan.