Detikacehnews.id | Bireuen – Sebanyak 397 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim mendapat pembekalan tentang pentingnya adab, akhlak dan integritas sebelum terjun melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Almuslim, Dr. Zahriyanti, S.Pd.I., MA, saat menjadi narasumber dalam Pembekalan Mahasiswa PPL FKIP Universitas Almuslim Tahun Akademik 2026/2027, Selasa (11/8/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung di Universitas Almuslim tersebut, Dr. Zahriyanti membawakan materi bertajuk “Adab di Atas Ilmu: Pilar Akhlakul Karimah.”
Materi tersebut menjadi penting karena mahasiswa PPL nantinya tidak hanya akan berhadapan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga akan menjadi bagian dari lingkungan sekolah dan berinteraksi langsung dengan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan serta para siswa.
Dr. Zahriyanti mengingatkan mahasiswa bahwa ketika berada di sekolah, mereka membawa nama pribadi sekaligus nama FKIP dan Universitas Almuslim. Karena itu, setiap sikap dan perilaku harus mencerminkan seorang calon pendidik yang memiliki adab dan integritas.
Menurutnya, kecerdasan dan penguasaan ilmu harus diiringi dengan akhlak. Seorang calon guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga harus mampu menunjukkan keteladanan melalui sikap sehari-hari.
Empat Pilar Adab Mahasiswa PPL
Dalam pemaparannya, Dr. Zahriyanti menjelaskan empat pilar adab yang perlu diperhatikan mahasiswa selama menjalani PPL.
Pertama, adab kepada pimpinan dan staf. Mahasiswa diminta menghormati hierarki formal yang berlaku di sekolah, menaati aturan internal serta menjaga kesopanan kepada seluruh staf.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan tata kelola sekolah dan memahami bahwa setiap lembaga memiliki aturan yang harus dihormati.
Kedua, adab kepada guru pamong.
Mahasiswa diminta memiliki sikap tawadhu atau rendah hati. Pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah tidak boleh membuat mahasiswa merasa lebih tahu dibandingkan guru yang telah memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan.
Sebaliknya, mahasiswa harus menjadikan guru pamong sebagai tempat belajar dan terbuka terhadap kritik maupun evaluasi.
“Jangan merasa lebih tahu. Jadilah mahasiswa yang siap menerima kritik dan evaluasi,” menjadi salah satu penekanan dalam materi yang disampaikan.
Ketiga, adab kepada para siswa.
Mahasiswa PPL diharapkan mampu menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi peserta didik.
Sikap, ucapan dan perilaku mahasiswa selama berada di sekolah dapat menjadi contoh bagi siswa. Karena itu, interaksi dengan peserta didik harus dilakukan secara etis dan tetap menjaga batas profesional.
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga diharapkan mengedepankan pendekatan yang penuh kasih sayang atau rahmah, sehingga suasana belajar dapat berlangsung dengan nyaman dan mendidik.
Keempat, adab kepada lingkungan.
Mahasiswa diminta mampu menyesuaikan diri dengan kultur atau ‘urf yang berlaku di sekolah. Selain itu, mereka juga harus ikut menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan serta menjaga nama baik almamater.
Tiga Pilar Integritas
Selain persoalan adab, Dr. Zahriyanti juga mengingatkan mahasiswa mengenai tiga nilai penting yang harus melekat pada calon pendidik, yakni anti-kekerasan, antinarkoba dan antikorupsi.
Pada aspek anti-kekerasan, mahasiswa diminta menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
Mahasiswa harus mampu mencegah tindakan perundungan atau bullying, menjaga interaksi yang etis serta tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun.
Sebagai Ketua Satgas PPKPT Universitas Almuslim, Dr. Zahriyanti juga menekankan pentingnya mahasiswa memahami mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan.
Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk melaporkan apabila menemukan tindakan kekerasan atau perundungan serta ikut membangun budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan.
Calon Guru Harus Bersih dari Narkoba
Nilai kedua adalah antinarkoba.
Mahasiswa PPL dinilai harus mampu menjadi contoh bagi peserta didik dalam menerapkan pola hidup yang sehat dan menjauhi penyalahgunaan narkoba.
Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui larangan, tetapi juga melalui deteksi, edukasi dan pembentukan kesadaran sejak dini.
Mahasiswa diharapkan ikut mendukung terciptanya kampus dan sekolah yang bersih dari narkoba serta menjadi bagian dari gerakan edukasi antinarkoba di kalangan generasi muda.
Integritas Dimulai dari Hal Kecil
Sementara itu, pada aspek antikorupsi, mahasiswa diingatkan untuk membangun budaya kejujuran sejak berada di lingkungan kampus.
Integritas tidak hanya berbicara mengenai kasus korupsi dalam skala besar, tetapi juga dimulai dari kebiasaan sederhana seperti tidak mencontek, tidak melakukan manipulasi, jujur dalam menjalankan tugas serta menolak segala bentuk gratifikasi.
Mahasiswa PPL juga diarahkan untuk memiliki komitmen terhadap pakta integritas dan menerapkan prinsip kejujuran serta transparansi selama melaksanakan kegiatan di sekolah.
Menurut Dr. Zahriyanti, calon guru yang berintegritas harus mampu mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan keputusan yang diambil.
Guru Sebagai Sosok yang Dimuliakan
Dalam materi tersebut, Dr. Zahriyanti turut mengingatkan mahasiswa mengenai kemuliaan profesi guru dalam perspektif Islam.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pentingnya menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak dan memberikan hak kepada orang yang memiliki ilmu.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa PPL harus menempatkan guru sebagai sosok yang patut dihormati sekaligus menjadi teladan dalam menjalankan proses pendidikan.
Mahasiswa juga diharapkan mampu mengambil pengalaman sebanyak mungkin dari guru pamong selama berada di sekolah.
PPL Bukan Sekadar Praktik Mengajar
Pembekalan yang diberikan Dr. Zahriyanti sekaligus menegaskan bahwa PPL bukan sekadar kesempatan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan teori mengajar yang diperoleh selama kuliah.
Lebih dari itu, PPL merupakan proses pembentukan karakter dan profesionalisme calon pendidik.
Di sekolah, mahasiswa akan belajar bagaimana berkomunikasi, memahami karakter peserta didik, bekerja sama dengan guru, mematuhi aturan lembaga dan menghadapi berbagai dinamika dalam lingkungan pendidikan.
Karena itu, keberhasilan PPL tidak hanya diukur dari kemampuan mahasiswa dalam menyusun perangkat pembelajaran atau menyampaikan materi di depan kelas, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa mampu menunjukkan sikap, etika dan tanggung jawab selama berada di sekolah.
Melalui pembekalan tersebut, FKIP Universitas Almuslim berharap mahasiswa PPL Tahun Akademik 2026/2027 dapat menjadi calon pendidik yang memiliki keseimbangan antara ilmu dan akhlak.
Sebab, seorang guru tidak hanya dituntut mampu mengajarkan ilmu kepada peserta didik, tetapi juga harus mampu menghadirkan keteladanan melalui adab dan perilakunya.
