Detikacehnews.id | Bireuen — Bupati Bireuen, Ir. Mukhlis, S.T. melepas keberangkatan skuad Persatuan Sepak Bola Bireuen (PSSB) U-13 yang akan mewakili Kabupaten Bireuen pada ajang Piala Soeratin U-13 PSSI Aceh di Kuta Asan, Kabupaten Pidie.
Pelepasan tersebut berlangsung di Pendopo Bupati Bireuen, Sabtu malam (15/8/2026), dalam suasana penuh semangat sekaligus nostalgia. Di hadapan para pemain muda PSSB, jajaran pengurus dan pendamping tim, Bupati Mukhlis tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga mengungkap kembali perjalanan dan perjuangannya ketika pernah dipercaya memimpin klub kebanggaan masyarakat Bireuen tersebut.
Mukhlis mengisahkan, dirinya pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSB pada masa Kabupaten Bireuen dipimpin H. Ruslan M. Daud. Saat itu, PSSB atau yang dikenal dengan julukan Laskar Batee Kureng berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia yang dikelola Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), di bawah kepemimpinan Ketua Umum PSSI ketika itu, Djohar Arifin Husin.
Menurut Mukhlis, memimpin sebuah klub sepak bola profesional bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan manajemen yang kuat, klub juga harus memiliki dukungan pembiayaan yang memadai untuk menjalankan kompetisi, membayar kebutuhan operasional, serta memenuhi berbagai kebutuhan pemain dan tim.
Ia mengaku pengalaman memimpin PSSB pada musim 2013 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Demi menjaga keberlangsungan tim dan memenuhi kebutuhan operasional klub, bahkan sebuah alat berat berupa eskavator miliknya harus dijual.
"Ketika itu satu eskavator saya yang nilainya sekitar Rp800 juta terpaksa dijual untuk membiayai PSSB," ujar Mukhlis dalam kesempatan tersebut.
Jika dikonversikan dengan nilai saat ini, kata dia, harga eskavator tersebut diperkirakan setara dengan sekitar Rp1,6 miliar. Pengalaman itu menjadi gambaran betapa besar pengorbanan yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi sebuah klub sepak bola daerah.
Mengenang Pola Pendanaan PSSB
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Mukhlis juga berbagi cerita mengenai pola pendanaan PSSB pada masa Kabupaten Bireuen dipimpin Drs. Mustafa A. Glanggang.
Mukhlis menjelaskan, ketika itu pemerintah daerah berupaya memberikan dukungan terhadap keberadaan PSSB. Selain mengalokasikan anggaran pemerintah kabupaten untuk membantu pembiayaan klub, terdapat pula pola dukungan lain yang melibatkan para kontraktor yang mendapatkan pekerjaan dari pemerintah daerah.
Menurutnya, Mustafa A. Glanggang sebagai kepala daerah saat itu selalu menyiapkan kuitansi khusus bagi para kontraktor yang memenangkan tender. Kuitansi tersebut berkaitan dengan komitmen berbagi keuntungan untuk turut mendukung pembiayaan PSSB.
Kisah tersebut disampaikan Mukhlis sebagai bagian dari perjalanan panjang klub sepak bola Bireuen yang dari waktu ke waktu menghadapi berbagai tantangan dalam hal pembiayaan dan pembinaan.
Kini, menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab dengan pola pembinaan yang lebih terarah, terutama melalui pengembangan pemain usia dini.
Pesan untuk Pemain Muda
Di hadapan para pemain PSSB U-13, Bupati Mukhlis berpesan agar seluruh pemain tidak hanya berorientasi pada kemenangan di atas lapangan.
Sebagai anak-anak yang membawa nama Kabupaten Bireuen, mereka diminta mampu menjaga sikap, disiplin, serta menjunjung tinggi sportivitas selama mengikuti kompetisi.
"Mainlah dengan maksimal di lapangan. Tetapi yang tidak kalah penting, pandai membawa diri dalam pergaulan, junjung tinggi sportivitas dan jaga nama baik Bireuen," pesan Mukhlis.
Ia berharap para pemain muda tersebut dapat menikmati pengalaman mengikuti Piala Soeratin sebagai bagian dari proses pembentukan karakter sekaligus peningkatan kemampuan sepak bola.
Menurutnya, kemenangan memang penting dalam sebuah pertandingan, tetapi proses pembinaan, kedisiplinan, kerja sama tim, dan sikap sportif merupakan nilai yang jauh lebih penting untuk dibawa para pemain dalam perjalanan mereka ke depan.
Sebelum melepas keberangkatan tim, Bupati Mukhlis juga menyerahkan bungong jaroë kepada kapten PSSB U-13 sebagai simbol dukungan dan doa agar skuad muda tersebut dapat tampil maksimal selama mengikuti kompetisi.
Pemerintah Kabupaten Bireuen juga memastikan dukungan terhadap keberangkatan tim. Pemkab akan menyediakan bus sekaligus menanggung biaya operasional kendaraan tersebut untuk mengantar dan menjemput skuad PSSB U-13 selama mengikuti Piala Soeratin di Pidie.
Mustafa: Membina Klub Tidak Mudah
Ketua Umum PSSB Drs. Mustafa A. Glangga dalam sambutannya turut mengenang perjuangan H. Mukhlis ketika memimpin PSSB.
Mustafa memberikan apresiasi terhadap kepedulian Mukhlis terhadap keberlangsungan klub. Ia membenarkan bahwa ketika menjadi Ketua Umum PSSB, Mukhlis pernah mengorbankan aset pribadinya demi membiayai operasional klub.
"Ketika itu satu unit eskavator milik Pak Mukhlis melayang untuk membiayai operasional PSSB," ungkap Mustafa.
Mantan anggota DPRD Aceh itu mengatakan, membina sebuah klub sepak bola bukan perkara sederhana. Apalagi setelah penggunaan APBD untuk pembiayaan klub sepak bola menghadapi berbagai pembatasan, pengurus harus mencari pola pembiayaan dan pembinaan yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Karena itu, PSSB di bawah kepengurusan saat ini diarahkan untuk lebih fokus pada pembinaan pemain usia dini.
Menurut Mustafa, pembinaan usia muda merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan sepak bola Bireuen. Para pemain yang saat ini masih berada pada kelompok usia U-13 diharapkan dapat berkembang secara bertahap hingga mampu menjadi pemain profesional.
PSSB Diproyeksikan Jadi Kawah Pemain Muda
Mustafa menegaskan, PSSB ke depan tidak hanya ditargetkan sebagai klub yang mengikuti kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan dan pencarian talenta-talenta muda dari Bireuen.
Pemain-pemain usia dini akan dibina secara berjenjang agar memiliki kemampuan teknis, pemahaman permainan, mental bertanding, kedisiplinan, serta karakter yang baik.
"Harapan kita PSSB menjadi tempat pembinaan calon-calon pemain sepak bola masa depan," kata Mustafa.
Ia berharap Bireuen dapat berkembang menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai pusat lahirnya pemain-pemain sepak bola berbakat di Aceh maupun Indonesia.
Bahkan, cita-cita tersebut diharapkan dapat menjadikan Bireuen sebagai salah satu episentrum pembinaan sepak bola usia dini, sehingga pada masa mendatang semakin banyak putra daerah yang mampu menembus kompetisi sepak bola profesional dan mewarnai liga tertinggi di Indonesia.
Keberangkatan PSSB U-13 ke Piala Soeratin pun menjadi salah satu langkah awal untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bagi para pemain muda, kompetisi ini bukan sekadar pertandingan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, membangun mental, dan mendapatkan pengalaman berharga dalam perjalanan menuju jenjang sepak bola yang lebih tinggi.
Dengan dukungan pemerintah daerah, pengurus, pelatih, orang tua, dan masyarakat, PSSB diharapkan mampu kembali menjadi kekuatan sepak bola Bireuen sekaligus melahirkan generasi baru pesepak bola yang dapat mengharumkan nama daerah di tingkat provinsi hingga nasional.
Keberangkatan skuad PSSB U-13 ke Piala Soeratin menjadi momentum untuk menanamkan harapan tersebut sejak usia dini: membangun sepak bola Bireuen bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk melahirkan pemain-pemain yang kelak mampu berdiri di panggung sepak bola tertinggi Indonesia.
