Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kenakan Busana Adat Dara Baro, Kepala SMA Negeri 3 Bireuen Hadiri Upacara Hardikda Aceh ke-67

Rabu, 02 September 2026 | 15:18 WIB Last Updated 2026-09-02T08:20:33Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen – Kepala SMA Negeri 3 Bireuen, Dra. Elfi Syahrani, M.Pd., tampil anggun dan berwibawa saat menghadiri Upacara Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 Tahun 2026 yang dipusatkan di halaman SMA Negeri 1 Kuala, Kabupaten Bireuen, Rabu (2/9/2026).

Dalam upacara yang digelar Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen tersebut, Elfi Syahrani tampil mengenakan busana adat Dara Baro khas Aceh yang dipadukan dengan sentuhan modern. Penampilannya tidak hanya memperlihatkan keanggunan, tetapi juga menjadi bagian dari semangat melestarikan identitas dan budaya Aceh dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Daerah.

Busana yang dikenakannya berupa baju kurung berbahan beludru dengan warna merah marun (burgundy). Busana tersebut dipadukan dengan lilitan ija pinggang bermotif songket serta hiasan kalung keureusang emas bertingkat yang terpasang di bagian dada.

Perpaduan busana adat tersebut memberikan kesan elegan sekaligus mempertegas karakter budaya Aceh. Sebagai seorang perempuan yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, penampilan Elfi pada momentum tersebut seolah menjadi representasi perpaduan antara nilai budaya, keteguhan kepemimpinan, dan pengabdian terhadap dunia pendidikan.




Namun, di balik penampilannya yang anggun dalam peringatan Hardikda tahun ini, terdapat makna yang lebih personal bagi Elfi Syahrani.

Upacara Hardikda Aceh ke-67 tahun 2026 menjadi salah satu momentum istimewa baginya karena merupakan tahun terakhir dirinya mengikuti peringatan Hardikda dalam kapasitas sebagai kepala sekolah sebelum memasuki masa purna bakti.

Elfi menyampaikan, pada tahun depan dirinya diperkirakan sudah memasuki masa purna bakti. Karena itu, keikutsertaannya dalam upacara Hardikda tahun ini memiliki kesan tersendiri.

Baginya, Hardikda bukan sekadar agenda tahunan yang mempertemukan para kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan insan pendidikan lainnya. Momentum tersebut juga menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang pengabdian di dunia pendidikan sekaligus menyaksikan keberlanjutan perjuangan dalam mencerdaskan generasi Aceh.

Keikutsertaan dalam Hardikda terakhir sebelum purna bakti tentu menjadi momen yang penuh makna. Selama menjalankan tugas sebagai pendidik sekaligus kepala sekolah, Elfi telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Kabupaten Bireuen.

Di tengah perubahan zaman dan tuntutan pendidikan yang terus berkembang, kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan satuan pendidikan mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sekolah, tetapi juga bagaimana membangun budaya belajar, meningkatkan kualitas tenaga pendidik, serta membentuk karakter peserta didik.

Momentum Hardikda ke-67 tahun ini menjadi kesempatan bagi Elfi untuk kembali berada bersama para insan pendidikan lainnya dalam satu kegiatan yang mengusung tema “Memajukan Pendidikan Aceh, Membangun Generasi Islami, Unggul, dan Bermartabat.”

Tema tersebut sejalan dengan tantangan pendidikan saat ini yang tidak hanya menuntut lahirnya generasi yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Dalam upacara tersebut, Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Yusnita, SE.Ak., S.Pd., M.Pd., bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan amanat Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Amanat tersebut menekankan bahwa pendidikan harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak, karakter, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Bagi para kepala sekolah dan guru yang telah lama mengabdikan diri di dunia pendidikan, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas mendidik merupakan amanah yang memiliki dampak panjang terhadap masa depan daerah.

Busana Adat dan Identitas Aceh

Penggunaan busana adat dalam peringatan Hardikda Aceh ke-67 juga memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan upacara.

Sejumlah kepala sekolah dan guru perempuan mengenakan baju pucok reubong, sedangkan para kepala sekolah dan guru laki-laki mengenakan baju laka. Sebagian peserta lainnya juga mengenakan busana adat Aceh.

Sementara itu, Yusnita selaku Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen mengenakan Busana Tradisional Nusantara dengan warna dominan marun atau merah manggis yang dipadukan dengan warna merah muda salem.

Kehadiran berbagai busana tradisional tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hardikda tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan dan mempertahankan kekayaan budaya daerah.

Dalam konteks pendidikan Aceh, budaya dan pendidikan memiliki hubungan yang erat. Pendidikan diharapkan tidak membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya, tetapi justru mampu menjadikan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Penampilan Elfi Syahrani dengan busana Dara Baro pada Hardikda tahun ini pun menjadi bagian dari suasana tersebut. Busana yang dikenakannya bukan sekadar pelengkap seremoni, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

Menutup Pengabdian dengan Kesan Mendalam

Bagi Elfi Syahrani, peringatan Hardikda Aceh ke-67 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Jika selama ini Hardikda menjadi agenda yang rutin diikuti setiap tahun, maka pelaksanaan tahun ini memiliki suasana berbeda karena menjadi salah satu kesempatan terakhir sebelum memasuki masa purna bakti.

Masa purna bakti bukan berarti berakhirnya perhatian terhadap dunia pendidikan. Pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai pengabdian yang telah dijalani selama bertahun-tahun tetap menjadi bagian penting yang dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Terlebih, dunia pendidikan membutuhkan kesinambungan. Pergantian kepemimpinan di sekolah merupakan bagian dari proses regenerasi yang diharapkan mampu membawa semangat baru tanpa menghilangkan nilai-nilai baik yang telah dibangun sebelumnya.

Sebagai kepala SMA Negeri 3 Bireuen, Elfi Syahrani telah menjadi bagian dari perjalanan sekolah dan dunia pendidikan di Kabupaten Bireuen. Momentum Hardikda terakhir sebelum purna bakti menjadi kesempatan untuk menikmati kembali kebersamaan dengan para kolega sekaligus menyaksikan semangat generasi muda yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan Aceh.

Dengan balutan busana Dara Baro yang anggun, kehadiran Elfi Syahrani pada Hardikda Aceh ke-67 tidak hanya menjadi perhatian karena penampilannya, tetapi juga karena makna di balik kehadirannya.

Hardikda tahun ini menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang pendidik pada akhirnya bukan hanya tentang jabatan dan masa kerja, melainkan tentang jejak pengabdian yang ditinggalkan.

Dan ketika masa purna bakti semakin dekat, semangat untuk memajukan pendidikan, membangun karakter generasi muda, serta menjaga nilai-nilai budaya Aceh tetap menjadi bagian dari warisan pengabdian yang akan terus dikenang.