Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Artikel - Penemuan Rumus, Metode Penemuan Terbimbing Salah Satu Alternatif Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar

Kamis, 02 November 2023 | 11:28 WIB Last Updated 2023-11-02T04:29:18Z

Artikel - Penemuan Rumus, Metode Penemuan Terbimbing Salah Satu Alternatif Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar
 Penulis : Asrul Karim, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Almuslim



Detikacehnews.id | Artikel - Guru sebagai sumber belajar utama di dalam kelas hendaknya mampu meramu pembelajaran sedemikian rupa sehingga pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan dan pembelajaran menyenangkan bagi siswa. Dalam kondisi tertentu, guru dihadapkan pada beberapa pertanyaan siswa yang membutuhkan jawaban atau pembuktian dari suatu rumus atau lainnya, misal : "Dari mana diperoleh rumus luas lingkaran". Pada kondisi tersebut guru dituntut untuk dapat memberikan pembuktian rumus secara konkret sehingga mudah dipahami oleh siswa Sekolah Dasar.


Pembelajaran matematika SD, diharapkan terjadi reinvention (penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian secara informal dalam pembelajaran di kelas. Heruman (2008) menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman belajar siswa sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Sehingga diharapkan pembelajaran yang terjadi merupakan pembelajaran lebih bermakna (meaningful), siswa tidak hanya belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about), tetapi juga belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning to be), dan belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), serta bagaimana bersosialisasi dengan sesama teman (learning to live together).


Siswa Sekolah Dasar (SD) berada pada umur yang berkisar antara usia 7 hingga 12 tahun, pada tahap ini siswa masih berpikir pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak dalam fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret (Heruman, 2008). Siswa SD masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan pancaindra, sehingga sangat diharapkan dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak, peserta didik lebih banyak menggunakan media sebagai alat bantu, dan penggunaan alat peraga. Karena dengan penggunaan alat peraga dapat memperjelas apa yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa lebih cepat memahaminya.


Pembelajaran matematika di SD tidak terlepas dari dua hal yaitu hakikat matematika itu sendiri dan hakikat dari anak didik di SD. Dalam kegiatan pembelajaran guru memegang peranan penting dalam usaha untuk mengembangkan pemahaman siswa dan kemampuan berpikir kritis. Untuk itu, guru perlu memahami strategi pembelajaran atau metode pembelajaran yang tepat agar siswa mampu berpikir kritis dan mendorong siswa agar berpikir kritis. Pott menyatakan ada tiga strategi spesifik untuk pembelajaran kemampuan berpikir kritis, yakni membangun kategori, menentukan masalah, dan menciptakan lingkungan yang mendukung (Rochaminah, 2008).


Metode penemuan terbimbing merupakan bagian dari pembelajaran dengan penemuan. Metode penemuan terbimbing pertama kali diperkenalkan oleh Plato antara Scorates dan seorang anak, maka sering disebut dengan metode Scratic. Metode ini melibatkan suatu dialog/interaksi antara siswa dan guru, dimana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan pertanyaan yang diatur oleh guru. Salah satu buku yang pertama menggunakan teknik penemuan terbimbing adalah tentang aritmatika oleh Warren Colburn yang pelajaran pertamanya berjudul: Intellectual Arithmetic upon the Inductive Methode of Instruction. Isinya menekankan penggunaan suatu urutan pertanyaan dalam mengembangkan konsep dan prinsip matematika (Markaban, 2008).


Proses bimbingan dari guru yang diberikan dalam penemuan terbimbing yaitu guru memberikan bantuan agar siswa lebih terarah dalam memahami tujuan kegiatan yang dilakukan dan berupa arahan tentang prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Arahan yang diberikan bisa dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang tepat dari seorang guru akan sangat membantu siswa dalam menemukan sesuatu.


Pembelajaran dengan model penemuan terbimbing dapat diselenggarakan secara individual atau kelompok. Model ini sangat bermanfaat untuk mata pelajaran matematika sesuai dengan karakteristik matematika tersebut (Markaban, 2008). Dalam pembelajaran dengan penemuan terbimbing peranan siswa sangat besar, karena pembelajaran tidak berpusat pada guru, guru hanya memberikan bimbingan kepada siswa dan bimbingan yang diberikan jika diperlukan dan dorongan yang diberikan agar siswa dapat berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang telah disediakan guru, seberapa jauhnya bimbingan yang diberikan oleh guru terhadap siswa, sangat tergantung pada kemampuan dan materi yang sedang dipelajari. Selanjutnya Markaban menambahkan dalam pembelajaran dengan penemuan terbimbing pembelajaran dimulai dengan guru memulai belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan mengkondisikan kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya.


Markaban (2008), menyatakan agar pelaksanaan model penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang perlu ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pertanyaan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
  2. Dari data yang diberikan oleh guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarah siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan atau LKS.
  3. Siswa membuat konjektur (perkiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
  4. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
  5. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa menyusunnya. Di samping itu perlu diingatkan pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
  6. Sesudah menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
  7. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing dapat diimplementasikan pada sekolah level tinggi, level sekolah sedang, dan sekolah level rendah. Untuk sekolah level rendah disarankan, guru terlebih dahulu membiasakan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah sebelum diganti dengan pembelajaran metode penemuan terbimbing. Bagi guru yang ingin mencoba metode ini, antara lain perlu memperhatikan hal-hal-hal seperti bahan ajar yang dirancang harus direncanakan dengan matang, sehingga pembelajaran dapat terjadi secara sistematis dan sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan. Dalam memberikan bimbingan guru hendaknya tidak perlu cepat-cepat memberikan bimbingan kepada siswa, jika pembelajaran dirancang dalam bentuk kelompok, bimbingan yang diberikan juga harus bimbingan bersifat bimbingan kelompok. Bimbingan yang diberikan harus minimal, ketika benar-benar siswa membutuhkannya.