![]() |
| Dokumentasi foto penjemputan mahasiswa KKM Angkatan XXVIII masa tanggap bencana secara resmi oleh pimpinan Universitas. |
Detikacehnews.id | Bireuen – Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen secara resmi menjemput kembali sebanyak 178 mahasiswa yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Angkatan XXVIII masa tanggap bencana, setelah menyelesaikan pengabdian di wilayah terdampak banjir hidrometeorologi dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen. Penjemputan mahasiswa tersebut berlangsung pada Selasa, 30 Desember 2025, di tiga kecamatan lokasi penempatan KKM.
Ratusan mahasiswa tersebut sebelumnya diterjunkan ke Kecamatan Peusangan, Kecamatan Peusangan Selatan, dan Kecamatan Jangka sebagai bagian dari program KKM tematik tanggap bencana. Penjemputan dilakukan secara terpisah di masing-masing kantor kecamatan dan dipimpin langsung oleh unsur pimpinan Universitas Almuslim, sebagai bentuk tanggung jawab institusional serta apresiasi atas dedikasi mahasiswa selama masa pengabdian.
Di Kecamatan Peusangan, penjemputan mahasiswa dilakukan oleh Wakil Rektor I Universitas Almuslim, Hakim Muttaqim, M.Ec., D.EV. Sementara itu, mahasiswa KKM yang ditempatkan di Kecamatan Peusangan Selatan dijemput oleh Wakil Rektor III Umuslim, Dr. drh. Zulfikar, M.Si., bersama Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Umuslim, Dr. Afkar, M.Pd., serta Sekretaris Jenderal Yayasan Almuslim, Dasril, M.Kom.
Adapun mahasiswa KKM yang melaksanakan pengabdian di Kecamatan Jangka dijemput oleh Wakil Rektor II Universitas Almuslim, Dr. Sonni M. Ikhsan Mangkuwinata, S.E., M.Si., yang turut didampingi oleh para dosen pembimbing lapangan (DPL) di masing-masing kecamatan.
Program KKM tanggap bencana Universitas Almuslim ini berlangsung selama kurang lebih 20 hari, terhitung sejak 20 hingga 30 Desember 2025. Selama periode tersebut, mahasiswa diterjunkan langsung ke desa-desa terdampak bencana banjir hidrometeorologi dan tanah longsor untuk membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan pemulihan pascabencana.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM terlibat aktif dalam kegiatan pembersihan rumah warga, rumah ibadah, serta sejumlah fasilitas umum yang terdampak banjir. Selain itu, mahasiswa juga memberikan pendampingan psikososial kepada anak-anak di wilayah terdampak, guna membantu pemulihan kondisi mental dan emosional mereka pascabencana.
Untuk sebaran lokasi, mahasiswa KKM ditempatkan di 12 desa yang tersebar di tiga kecamatan. Di Kecamatan Jangka, mahasiswa ditempatkan di Desa Kuala Ceurape, Alue Bayeu Utang, Punjot, dan Cot Ara. Sementara di Kecamatan Peusangan, lokasi KKM meliputi Desa Blang Panjoe, Pante Lhong, Kapa, dan Gampong Raya Tambo. Adapun di Kecamatan Peusangan Selatan, mahasiswa melaksanakan KKM di Desa Ulee Jalan, Krueng Beukah, Blang Cut, dan Lueng Kuli.
Setiap desa diisi oleh 15 mahasiswa KKM. Meski tidak menetap secara permanen di lokasi desa, para mahasiswa tetap aktif menjalankan berbagai program yang telah dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain kegiatan sosial dan kemanusiaan, mahasiswa KKM juga melaksanakan program kelompok dan program mandiri yang memiliki nilai akademik. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut akan dirangkum dalam laporan akhir KKM, yang diharapkan dapat menjadi catatan ilmiah serta dikembangkan menjadi artikel jurnal kampus, baik pada tingkat nasional maupun jurnal bereputasi seperti SINTA dan Scopus.
Pada kesempatan tersebut, Camat Peusangan Selatan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Universitas Almuslim atas kepedulian dan kontribusi nyata melalui penempatan mahasiswa KKM di desa-desa terdampak bencana. Menurutnya, kehadiran mahasiswa sangat membantu pemerintah desa dan masyarakat, khususnya dalam proses pembersihan lingkungan serta pemulihan pascabencana banjir hidrometeorologi.
Camat juga berharap agar pada pelaksanaan KKM pada gelombang berikutnya, Universitas Almuslim dapat kembali menempatkan mahasiswa di desa-desa lain yang membutuhkan pendampingan dan bantuan serupa.
Program KKM tanggap bencana ini menjadi wujud nyata peran perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi serta memulihkan dampak bencana alam.
