Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pembangunan Permanen Jembatan Krueng Tingkeum dan Teupin Mane Dimulai, Diperkirakan Rampung Delapan Bulan

Kamis, 08 Januari 2026 | 22:01 WIB Last Updated 2026-01-08T15:15:00Z

Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST

 

Detikacehnews.id | Bireuen - Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, menyampaikan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum (PU) secara resmi telah memulai pembangunan permanen Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang serta Jembatan Teupin Mane di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Pembangunan jembatan strategis tersebut telah dimulai sejak Rabu, 7 Januari 2026, dan diperkirakan memakan waktu sekitar delapan bulan hingga dapat difungsikan secara permanen.


Informasi tersebut disampaikan Bupati Mukhlis kepada awak media pada Kamis, 8 Januari 2026, setelah dirinya melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan bersama jajaran Kementerian PU. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis serta kelancaran pelaksanaan pembangunan jembatan permanen yang memiliki peran vital bagi konektivitas masyarakat.


Dalam peninjauan lapangan tersebut, Bupati Bireuen turut mendampingi pejabat dari Kementerian PU, antara lain Direktur Preservasi Jalan Wilayah I, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Kasatker Wilayah I Aceh, serta perwakilan dari perusahaan pelaksana proyek, yakni PT Adhi Karya yang berkolaborasi dengan kontraktor lokal PT Krueng Meuh.


Bupati Mukhlis menjelaskan bahwa pembangunan permanen Jembatan Krueng Tingkeum merupakan langkah penting dalam memulihkan akses transportasi masyarakat di Kecamatan Kuta Blang dan wilayah sekitarnya. Jembatan tersebut selama ini menjadi jalur utama yang menunjang aktivitas ekonomi, sosial, dan pelayanan publik, sehingga keberadaannya sangat strategis bagi mobilitas masyarakat.


Menurut Mukhlis, tahapan awal pembangunan telah berjalan, termasuk penataan area kerja dan persiapan teknis lainnya. Pemasangan pancang permanen direncanakan akan dimulai pada 20 Januari 2026 dengan posisi di sisi hilir jembatan, menyesuaikan dengan bentang jembatan sebelumnya. Selain itu, alat berat juga telah dikerahkan untuk mendukung pekerjaan awal, termasuk penertiban fasilitas yang berada di sekitar area pembangunan.


Selain Jembatan Krueng Tingkeum, Bupati Mukhlis menyampaikan bahwa pembangunan permanen Jembatan Teupin Mane di Kecamatan Juli juga telah dimulai oleh Kementerian PU. Proyek ini diproyeksikan memiliki durasi pengerjaan yang sama, yakni sekitar delapan bulan, dan diharapkan dapat segera memulihkan konektivitas masyarakat di wilayah tersebut.


Bupati Mukhlis mengimbau masyarakat agar mendukung penuh proses pembangunan sehingga dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Ia juga mengingatkan bahwa selama proses pembangunan berlangsung, Jembatan Bailey yang saat ini digunakan sebagai akses utama sementara harus dijaga bersama dan digunakan sesuai ketentuan, terutama terkait batas kapasitas muatan.


Dalam kesempatan tersebut, Bupati Mukhlis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, atas respons cepat dan perhatian serius dalam menangani pembangunan permanen jembatan di Kabupaten Bireuen. Menurutnya, dukungan tersebut sangat membantu percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana.


Lebih lanjut, Bupati Mukhlis menekankan pentingnya memperhatikan kearifan lokal serta tidak mengganggu akses jalan masyarakat di sekitar lokasi pembangunan. Ia berharap pengaturan bentang jembatan dapat dilakukan secara cermat agar tidak mengenai jalur jalan arah utara dan selatan yang selama ini digunakan masyarakat.


Bupati Mukhlis juga menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam mendukung pembangunan jembatan permanen tersebut. Pemerintah daerah, kata Mukhlis, siap melakukan pembebasan lahan yang dibutuhkan serta terus berkoordinasi dengan masyarakat setempat guna memperlancar seluruh tahapan pembangunan.


Dengan dimulainya pembangunan permanen Jembatan Krueng Tingkeum dan Jembatan Teupin Mane oleh Kementerian PU, Pemerintah Kabupaten Bireuen berharap konektivitas antarwilayah dapat segera pulih, aktivitas masyarakat kembali berjalan normal, serta pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus didorong secara berkelanjutan.