Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

19 Tahun Mengabdi sebagai Guru Honorer, Safrizal Akhirnya Terima SK PPPK Paruh Waktu

Kamis, 05 Februari 2026 | 20:47 WIB Last Updated 2026-02-05T13:47:58Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen - Kisah perjuangan panjang seorang guru honorer kembali menjadi sorotan dalam penyerahan Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu bagi tenaga pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Bireuen. Salah satunya adalah Safrizal, S.Pd, guru bidang Geografi yang telah mengabdi selama kurang lebih 19 tahun sebelum akhirnya menerima SK PPPK Paruh Waktu dari Gubernur Aceh yang diserahkan melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd, dalam acara di Aula Cabang Dinas Pendidikan Bireuen pada Kamis, 5 Februari 2026.


Kini, setelah resmi menyandang status PPPK Paruh Waktu, Safrizal ditugaskan di SMK Negeri 2 Peusangan, melanjutkan pengabdiannya di dunia pendidikan dengan semangat baru dan harapan yang lebih pasti.


Bagi Safrizal, momen penerimaan SK tersebut bukan sekadar formalitas administrasi, tetapi hasil dari perjalanan panjang yang penuh tantangan. Ia mengaku sangat bersyukur meskipun status yang diterima masih paruh waktu.


Alhamdulillah, hari ini saya sudah menerima SK PPPK. Walaupun masih paruh waktu, saya tetap bersyukur. Ini menjadi harapan baru bagi saya untuk terus mengabdi,” ungkapnya.


Ayah dua anak ini mengakui bahwa perjalanan panjang sebagai guru honorer bukanlah hal mudah. Ia bahkan sempat mengalami masa-masa putus asa karena selama bertahun-tahun mengajar, kepastian status dan kesejahteraan belum juga ia rasakan.


Safrizal mulai mengajar sebagai guru honorer bidang Geografi sejak tahun ajaran 2007/2008 di SMA Negeri 2 Bireuen. Saat itu, ia menerima honor sekitar Rp35.000 per bulan dengan beban mengajar sekitar 10 jam per minggu. Nominal tersebut tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun kecintaannya terhadap dunia pendidikan membuatnya tetap bertahan.


Seiring waktu, honor yang diterima sempat meningkat menjadi sekitar Rp90.000 namun pembayaran dilakukan setiap tiga bulan sekali dan masih dipotong pajak. Bahkan, beban mengajar yang diberikan sempat hanya sekitar tiga jam per minggu, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.


Kondisi tersebut membuat Safrizal harus berjuang ekstra demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ia mengaku sering kesulitan bahkan untuk biaya transportasi menuju sekolah. Dalam situasi tersebut, ia mencoba berbagai pekerjaan sampingan, mulai dari pekerjaan serabutan hingga berjualan sayuran seperti kangkung, bayam, dan kebutuhan lain di lingkungan sekolah.


Meski demikian, ia tidak pernah meninggalkan profesinya sebagai guru. Baginya, mengajar adalah bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral terhadap generasi muda.


Ketika kesempatan mengikuti seleksi PPPK Paruh Waktu dibuka, Safrizal sempat enggan mendaftar. Kekecewaan dan kelelahan akibat panjangnya masa pengabdian tanpa kepastian membuatnya hampir menyerah. Namun dukungan rekan-rekan guru di SMA Negeri 2 Bireuen menjadi penyemangat penting baginya.


Para kolega terus mendorong dan bahkan membantu proses pendaftarannya hingga akhirnya ia bersedia mengikuti seleksi. Usaha tersebut berbuah manis ketika ia dinyatakan lulus PPPK Paruh Waktu.


Ia pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada rekan-rekan guru yang telah memberikan dukungan moral dan bantuan nyata selama proses tersebut.


Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman guru yang sudah menyemangati dan membantu saya mendaftar. Dukungan mereka sangat berarti bagi saya,” katanya.


Meskipun kini telah menerima SK PPPK Paruh Waktu dan ditempatkan di SMK Negeri 2 Peusangan, Safrizal masih menyimpan harapan ke depan. Ia berharap suatu saat dapat diangkat menjadi PPPK penuh waktu sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian panjangnya di dunia pendidikan.


Baginya, kepastian status bukan semata soal kesejahteraan, tetapi juga bentuk pengakuan terhadap dedikasi guru honorer yang telah lama berkontribusi dalam mencerdaskan generasi bangsa.


Kisah Safrizal menjadi potret nyata keteguhan banyak guru honorer yang tetap bertahan di tengah keterbatasan. Ketulusan, kesabaran, dan semangat pengabdian yang ia tunjukkan menjadi inspirasi bahwa profesi pendidik bukan hanya soal pekerjaan, melainkan panggilan hati.


Penyerahan SK PPPK Paruh Waktu tersebut diharapkan menjadi momentum penguatan kualitas pendidikan di daerah sekaligus memberikan semangat baru bagi para tenaga pendidikan untuk terus berkarya. Bagi Safrizal, perjalanan panjang itu kini membuka lembaran baru melanjutkan pengabdian dengan harapan yang lebih pasti, sambil tetap menanamkan dedikasi dan ketulusan dalam mendidik generasi masa depan.