Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dokter Paru Aceh Serahkan Nebulizer dan Obat Pulmonologi untuk Puskesmas Kutablang Terdampak Banjir

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:43 WIB Last Updated 2026-02-05T11:43:16Z



Detikacehnews.id | Bireuen - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh menunjukkan kepeduliannya terhadap dampak banjir yang melanda Kabupaten Bireuen dengan menyerahkan bantuan alat kesehatan berupa nebulizer, masker nebule, serta obat-obatan khusus bidang pulmonologi kepada Puskesmas Kutablang. Bantuan tersebut diserahkan oleh perwakilan PDPI Aceh, dr. Hulaimi Jeunieb, Sp.P, sebagai upaya mendukung optimalisasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat pascabanjir.


Puskesmas Kutablang menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang paling terdampak banjir beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut bahkan sempat menyebabkan pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan optimal selama sekitar satu bulan setelah banjir terjadi. Melihat situasi tersebut, para dokter paru di Aceh berinisiatif memberikan dukungan konkret agar pelayanan kesehatan, khususnya terkait penyakit paru, dapat kembali berjalan maksimal.


Menurut dr. Hulaimi Jeunieb, bantuan alat nebulizer sangat penting mengingat meningkatnya potensi gangguan pernapasan pascabanjir. Selain faktor lingkungan yang lembap, kondisi infrastruktur seperti jembatan Kutablang yang sempat putus akibat banjir juga memicu peningkatan aktivitas proyek pembangunan. Hal ini berdampak pada tingginya paparan debu di sekitar wilayah tersebut.


Paparan debu, lanjutnya, dapat memicu masalah kesehatan paru, terutama bagi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Debu yang masuk ke saluran pernapasan dapat menyebabkan pelepasan mediator inflamasi, penyempitan saluran napas, serta peningkatan produksi lendir. Kondisi ini berisiko memicu eksaserbasi atau kekambuhan pada pasien dengan penyakit paru kronis.


Dalam situasi paparan seperti sekarang, eksaserbasi penyakit paru kronis sangat mungkin terjadi. Karena itu, keberadaan nebulizer menjadi penting untuk membantu penanganan cepat pasien yang mengalami gangguan pernapasan. Kami berharap alat dan obat-obatan ini dapat dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat,” ujarnya.


Selain faktor kesehatan lingkungan, posisi Kutablang yang menjadi jalur transit kendaraan logistik pascabanjir juga meningkatkan mobilitas masyarakat. Pembatasan tonase kendaraan di jembatan Kutablang membuat wilayah tersebut menjadi titik bongkar muat sementara bagi kendaraan besar, sehingga aktivitas dan potensi pencemaran udara meningkat.


Kepala Puskesmas Kutablang, dr. Emi Handayani, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan PDPI Aceh. Ia menilai dukungan tersebut sangat berarti bagi fasilitas kesehatan yang masih dalam tahap pemulihan pascabanjir.


Bantuan ini sangat membantu kami, terutama dalam memberikan pelayanan bagi pasien dengan gangguan pernapasan. Kami berkomitmen menggunakan alat nebulizer dan obat-obatan ini secara maksimal demi pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.


Ia juga menjelaskan bahwa selama masa pascabanjir, Puskesmas Kutablang tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga masyarakat dari luar daerah. Posisi Kutablang yang menjadi jalur transit aktivitas logistik membuat kebutuhan pelayanan kesehatan meningkat, termasuk bagi para sopir dan pekerja yang singgah di wilayah tersebut.


Banjir yang melanda Bireuen sebelumnya memang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gangguan aktivitas masyarakat di berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan. Oleh karena itu, bantuan dari berbagai pihak, khususnya tenaga medis dan organisasi profesi kesehatan, dinilai sangat membantu percepatan pemulihan kondisi masyarakat.


Dengan adanya dukungan alat kesehatan dan obat-obatan dari PDPI Aceh, diharapkan pelayanan kesehatan paru di Puskesmas Kutablang semakin optimal serta mampu mengantisipasi peningkatan kasus gangguan pernapasan pascabanjir. Kolaborasi antara tenaga medis, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan publik di tengah situasi pemulihan bencana.