Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hari Raya Idul Fitri 2026 Jatuh pada Jumat atau Sabtu?

Rabu, 18 Maret 2026 | 11:43 WIB Last Updated 2026-03-18T04:43:54Z


 
Detikacehnews.id | Opini - Kalender Hijriyah disusun berdasarkan peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Penentuan awal bulan Hijriyah bergantung pada terlihatnya hilal, yaitu sabit muda tipis yang pertama kali muncul setelah matahari terbenam. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli kini mampu menghitung posisi Bulan secara astronomis. Perhitungan ini menjadi dasar dalam memprediksi kemungkinan terlihatnya hilal (rukyat). Dari data pengamatan jangka panjang, lahirlah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat, yaitu batas minimal agar hilal dapat terlihat.

Salah satu kriteria yang digunakan saat ini adalah Neo-MABIMS, hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura sejak 2022. Dalam kriteria ini, hilal dinyatakan mungkin terlihat jika memiliki tinggi minimal 3° dan elongasi (jarak sudut Bulan–Matahari) minimal 6,4°. Indonesia bersama Malaysia dan Singapura menggunakan kriteria ini, sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal global yang memiliki pendekatan berbeda.

Data Hisab dan Rukyat 1 Syawal 1447 H (2026):
Ijtimak (konjungsi) diprediksi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB. Berdasarkan data BMKG, saat magrib di hari yang sama, posisi hilal berada pada:
  • Tinggi: antara 0° 54′ 27″ hingga 3° 07′ 52″
  • Elongasi: antara 4° 32′ 40″ hingga 6° 06′ 10″

Meskipun di wilayah tertentu seperti Aceh ketinggian hilal sedikit melampaui 3°, namun elongasinya belum mencapai batas minimal 6,4°. Artinya, secara kriteria Neo-MABIMS, hilal belum memenuhi syarat untuk dapat dirukyat pada 19 Maret 2026.

Dalam diskusi bersama para praktisi falak (14 Maret 2026), Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN) menyampaikan bahwa berdasarkan data rukyat global, tidak ada laporan valid pengamatan hilal pada selisih tinggi Bulan–Matahari kurang dari 4 derajat. Oleh karena itu, secara ilmiah dapat diperkirakan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Lalu bagaimana jika ada laporan melihat hilal? Dalam sidang isbat, setiap kesaksian tetap diuji secara ilmiah. Jika posisi hilal secara astronomis mustahil untuk dilihat, maka kesaksian tersebut dapat ditolak karena diduga sebagai kesalahan pengamatan atau gangguan optik. Prof. Ahmad Izzuddin, Ketua Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara, juga menegaskan bahwa sidang isbat tidak mengabaikan kebenaran sains, melainkan mengintegrasikannya dengan dalil syariat.

Pada akhirnya, penetapan resmi awal Syawal tetap diputuskan melalui sidang isbat pemerintah, sebagai bentuk ijtihad kolektif yang memadukan dalil agama dan bukti ilmiah. Hal ini penting agar umat Islam dapat merayakan Idul Fitri secara serentak dan penuh kebersamaan.

Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriyah adalah hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Yang terpenting adalah menyikapinya dengan bijak, saling menghormati, dan menjaga ukhuwah.

Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Semoga kita kembali kepada fitrah, menjadi pribadi yang lebih bersih, dan meraih keberkahan.