Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemkab Bireuen dan Muhammadiyah DIY Tanam Jeruk Pamelo Giri Matang di Pante Lhong

Senin, 07 September 2026 | 14:29 WIB Last Updated 2026-09-07T07:31:35Z



Detikacehnews.id | Bireuen — Pemerintah Kabupaten Bireuen terus mendorong upaya pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana banjir melalui penguatan sektor pertanian dan hortikultura. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui pengembangan kembali komoditas unggulan daerah, Jeruk Pamelo varietas Giri Matang, di Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan.

Komitmen tersebut ditandai dengan kegiatan simbolis penanaman bibit Jeruk Pamelo Giri Matang yang berlangsung di Gampong Pante Lhong, Senin (7/9/2026 Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Bireuen yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Bireuen, Ismunandar, ST., MT.

Kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari Program Revitalisasi Komoditas Jeruk Bali dalam kerangka rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir Aceh yang digagas oleh Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Program tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan dalam membangun kembali sektor pertanian yang terdampak bencana. Selain berorientasi pada pemulihan lingkungan dan lahan pertanian, pengembangan Jeruk Pamelo diharapkan mampu menjadi salah satu sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen Mulyadi, SE., MM, Camat Peusangan beserta unsur Forkopimcam, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bireuen, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Peusangan, jajaran MDMC dan LAZISMU, Badan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bireuen, Keuchik Gampong Pante Lhong beserta perangkat gampong, kelompok tani dan masyarakat setempat, serta Tengku Dayah Raudhatul Ma'arif.

Jeruk Pamelo Jadi Tumpuan Ekonomi Warga





Keuchik Gampong Pante Lhong, Murizal Haryanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan Jeruk Pamelo memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Komoditas tersebut selama ini menjadi salah satu tumpuan ekonomi warga, terutama di tengah keterbatasan lahan persawahan dan kerusakan jaringan irigasi akibat bencana.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat harus mencari alternatif sumber penghasilan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Dalam konteks itu, perkebunan Jeruk Pamelo menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian hortikultura juga membuat pemulihan perkebunan menjadi bagian penting dari proses rehabilitasi pascabencana.

Karena itu, Murizal berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan dapat memberikan intervensi yang lebih konkret, baik dalam bentuk bantuan stimulan, penyediaan bibit, pendampingan teknis maupun rehabilitasi sarana pendukung pertanian.

Dukungan tersebut, kata dia, sangat dibutuhkan agar petani dapat kembali menjalankan aktivitas produksi sekaligus mempertahankan keberadaan Jeruk Pamelo sebagai salah satu komoditas unggulan masyarakat Pante Lhong.

Pemkab Pertahankan Giri Matang sebagai Komoditas Ikonik

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, SE., MM, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki komitmen untuk mempertahankan Jeruk Pamelo Giri Matang sebagai salah satu produk hortikultura ikonik sekaligus ciri khas Kabupaten Bireuen.

Menurut Mulyadi, keberadaan Jeruk Pamelo Giri Matang bukan hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan identitas daerah yang perlu dijaga.

Komitmen tersebut semakin kuat setelah proses penetapan nama dan status Jeruk Pamelo Giri Matang rampung ditandatangani pada Desember 2024, setelah melalui proses panjang sejak 2018.

Dengan adanya kepastian tersebut, pemerintah daerah memiliki landasan yang lebih kuat untuk mendorong pengembangan Jeruk Pamelo secara lebih terarah, mulai dari penyediaan bibit, peningkatan kapasitas petani hingga penguatan produksi dan pemasaran.

Namun, bencana banjir yang melanda Aceh turut memberikan dampak besar terhadap sektor hortikultura di Kabupaten Bireuen. Sejumlah kawasan perkebunan masyarakat mengalami kerusakan, termasuk sentra pengembangan Jeruk Pamelo yang menjadi salah satu komoditas terdampak cukup parah.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menyusun langkah pemulihan secara bertahap.

Mulyadi menjelaskan, pada tahap awal pemerintah memang lebih banyak memfokuskan penanganan terhadap sektor persawahan yang mengalami kerusakan akibat bencana. Namun, pemulihan perkebunan hortikultura juga menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen telah menyiapkan sekitar 2.000 bibit Jeruk Pamelo untuk disalurkan kepada desa-desa prioritas.

Penyaluran bibit tersebut dijadwalkan mulai dilakukan pada November mendatang, termasuk untuk Gampong Pante Lhong dan sejumlah wilayah lain di Kecamatan Peusangan.

Program tersebut diharapkan dapat membantu petani mengganti tanaman yang rusak akibat bencana sekaligus membuka kembali peluang pengembangan kebun Jeruk Pamelo secara lebih luas.

Tidak hanya bantuan bibit, pemerintah daerah juga telah menyiapkan skema perbaikan dan rehabilitasi perkebunan dalam jangka panjang. Program pemulihan tersebut dirancang untuk terus berjalan hingga 2027.

Dengan demikian, pemulihan sektor hortikultura tidak berhenti pada pemberian bantuan awal, tetapi diarahkan pada pembangunan kembali perkebunan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Apresiasi untuk Relawan Muhammadiyah

Pada kesempatan tersebut, pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan juga menyampaikan apresiasi kepada tim relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang telah mendampingi masyarakat Gampong Pante Lhong selama kurang lebih tiga bulan.

Pendampingan tersebut dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengembangkan komoditas Jeruk Pamelo.

Kolaborasi seperti ini dinilai penting karena proses pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga membutuhkan pendampingan, transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bireuen berharap program yang telah berjalan di Gampong Pante Lhong tidak berhenti di satu wilayah. Pengembangan potensi Jeruk Pamelo diharapkan dapat diperluas ke desa-desa tetangga sehingga manfaat program dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.
Pemkab Bireuen Buka Ruang Kolaborasi Lebih Luas

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Bireuen, Ismunandar, ST., MT, yang hadir mewakili Bupati Bireuen, menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam program pemulihan masyarakat pascabencana tersebut.

Menurutnya, kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk perhatian dan penghargaan terhadap kerja keras para relawan di tingkat gampong maupun jajaran Muhammadiyah yang telah membantu masyarakat terdampak banjir.

Ia menilai, berbagai program yang dilaksanakan MDMC bersama masyarakat menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana dapat dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Ini suatu bukti kepedulian Pemerintah Kabupaten Bireuen, dalam hal ini Bupati beserta jajarannya terhadap program atau kegiatan ini. Ini suatu penghargaan, suatu penilaian yang tidak bisa diukur,” ujar Ismunandar.

Ia juga mengapresiasi pendampingan yang dilakukan para relawan selama berada di tengah masyarakat. Menurutnya, kehadiran relawan tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk kegiatan fisik, tetapi juga mendorong masyarakat untuk bangkit dan mengembangkan kembali potensi ekonomi yang mereka miliki.

Melihat besarnya dampak positif dari program MDMC DIY selama melaksanakan pendampingan, Pemkab Bireuen berharap hubungan kerja sama tersebut dapat terus dilanjutkan.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten Bireuen membuka ruang yang seluas-luasnya bagi Muhammadiyah DIY maupun Pimpinan Muhammadiyah di tingkat pusat untuk membawa program-program pemberdayaan lainnya ke Kabupaten Bireuen.

Ayo dorong Pengurus Muhammadiyah D.I. Yogyakarta, kalau perlu Pengurus Muhammadiyah Pusatnya, perhatikan Bireuen dengan program-program dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita welcome. Jadi ayo bawa program, bawa kegiatan, bawa contoh yang baik bagi kami masyarakat Aceh,” lanjutnya.

Menurutnya, pemerintah daerah akan menyambut baik setiap program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama program yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat setelah menghadapi bencana.

Menanam Harapan dari Gampong Pante Lhong

Rangkaian kegiatan kemudian mencapai puncaknya melalui prosesi simbolis penanaman bibit Jeruk Pamelo Giri Matang.

Sekda Bireuen Ismunandar bersama perwakilan Lembaga Resiliensi Bencana MDMC serta Keuchik Gampong Pante Lhong secara bersama-sama melakukan penanaman bibit Jeruk Pamelo sebagai simbol dimulainya kembali upaya pengembangan komoditas tersebut di tengah masyarakat.

Penanaman bibit tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Bagi masyarakat Pante Lhong, bibit yang ditanam menjadi bagian dari harapan untuk membangun kembali sumber penghidupan yang sempat terdampak bencana.

Di tengah kerusakan lahan dan berbagai keterbatasan yang dihadapi pascabanjir, pengembangan Jeruk Pamelo Giri Matang diharapkan dapat menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk memulihkan perekonomian keluarga.

Pemerintah Kabupaten Bireuen bersama berbagai pihak berkomitmen agar proses tersebut terus mendapatkan pendampingan. Mulai dari penyediaan bibit, penguatan kapasitas petani, rehabilitasi kebun hingga pengembangan pemasaran diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Dengan kolaborasi pemerintah daerah, Muhammadiyah, relawan, penyuluh pertanian dan kelompok tani, Gampong Pante Lhong diharapkan dapat kembali menjadi salah satu kawasan pengembangan Jeruk Pamelo Giri Matang di Kabupaten Bireuen.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kembali sektor pertanian Bireuen setelah bencana, dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pemulihan.

Dari Gampong Pante Lhong, penanaman bibit Jeruk Pamelo Giri Matang menjadi simbol bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, tetapi juga menanam harapan baru bagi masa depan masyarakat.