Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SMAN 1 Kuala Perkuat Karakter GTK melalui Workshop Disiplin dan Budaya Positif

Sabtu, 12 September 2026 | 16:55 WIB Last Updated 2026-09-12T10:03:08Z



Detikacehnews.id | Bireuen – SMA Negeri 1 Kuala, Kabupaten Bireuen, menggelar Workshop Disiplin dan Budaya Positif bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di Ruang Aula sekolah setempat, Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat karakter pendidik sekaligus membangun lingkungan pendidikan yang disiplin, inklusif, dan mendukung perkembangan peserta didik.

Workshop tersebut menghadirkan Abubakar, S.Pd., M.Pd., dan Dra. Susi Inda sebagai pemateri. Keduanya membawakan materi bertema “Membangun Kepribadian Guru dalam Membentuk Budaya Positif”, dengan penekanan pada penguatan karakter pendidik sebagai fondasi pendisiplinan positif, pengembangan ekosistem inklusif, serta transformasi lingkungan belajar.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Kuala, Nurul Aini, S.Pd., M.A.P. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan karakter pendidik sebagai bagian dari upaya membangun budaya positif di lingkungan sekolah.





Disiplin dan budaya positif tidak cukup hanya dibangun melalui aturan, tetapi harus dimulai dari keteladanan, komitmen, dan konsistensi seluruh warga sekolah. Guru dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, tertib, dan saling menghargai,” ujar Nurul Aini.

Menurutnya, kepribadian guru menjadi salah satu fondasi utama dalam membentuk karakter peserta didik. Sikap, tutur kata, serta cara pendidik berinteraksi dengan siswa akan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari.

Melalui workshop ini, kami berharap GTK SMAN 1 Kuala dapat semakin memahami bahwa setiap tindakan dan sikap pendidik memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter siswa. Karena itu, penguatan kepribadian guru harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme,” lanjutnya.

Ia juga menyampaikan bahwa penerapan disiplin positif perlu dilakukan dengan pendekatan yang mendidik, bukan semata-mata mengedepankan hukuman. Menurutnya, peserta didik perlu diarahkan untuk memahami aturan, membangun kesadaran, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.

Pendisiplinan positif harus mampu menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab peserta didik. Kita ingin siswa belajar memahami konsekuensi dari setiap perilaku, memperbaiki kesalahan, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berkarakter,” jelasnya.

Melalui tema “Membangun Kepribadian Guru dalam Membentuk Budaya Positif”, workshop ini menempatkan kepribadian pendidik sebagai unsur penting dalam pembentukan budaya sekolah. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, perilaku, komunikasi, serta cara membangun interaksi yang menghargai setiap individu.

Budaya positif pada dasarnya dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, penguatan karakter pendidik menjadi langkah strategis dalam menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, tertib, dan mendorong peserta didik untuk berkembang secara optimal. Keteladanan guru dalam menjalankan tanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan secara bijaksana menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Dalam konteks pendisiplinan positif, pendekatan yang dikembangkan tidak semata-mata berorientasi pada pemberian hukuman, melainkan pada upaya membangun kesadaran, tanggung jawab, dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati bersama. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu peserta didik memahami alasan di balik suatu aturan, memperbaiki kesalahan, serta belajar mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Selain penguatan disiplin, materi workshop juga berkaitan dengan pentingnya membangun ekosistem sekolah yang inklusif. Lingkungan pendidikan yang inklusif menuntut seluruh warga sekolah untuk menghargai keberagaman karakter, kemampuan, latar belakang, dan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, setiap siswa memperoleh kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, dan berkembang dalam suasana yang saling menghormati.

Peran GTK menjadi sangat penting dalam mewujudkan lingkungan tersebut. Guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan perlakuan yang adil, serta menciptakan suasana interaksi yang mendorong rasa percaya diri dan keterlibatan peserta didik. Sikap profesional dan humanis dalam menjalankan tugas menjadi bagian dari upaya membentuk budaya sekolah yang positif.

Workshop ini juga menjadi ruang refleksi bagi GTK SMAN 1 Kuala untuk melihat kembali praktik-praktik yang telah berjalan di lingkungan sekolah. Melalui diskusi dan penyampaian materi, peserta diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai pentingnya konsistensi antara nilai yang disampaikan kepada peserta didik dan perilaku yang ditunjukkan dalam keseharian.

Transformasi lingkungan belajar tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana, tetapi juga oleh budaya yang tumbuh di dalamnya. Lingkungan belajar yang positif akan lebih mudah diwujudkan apabila seluruh warga sekolah memiliki komitmen yang sama dalam menjaga kedisiplinan, membangun hubungan yang saling menghargai, dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

Kegiatan workshop tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara guru dan tenaga kependidikan dalam membangun budaya sekolah yang berorientasi pada pembentukan karakter. Dengan penguatan kepribadian pendidik, sekolah tidak hanya mendorong terciptanya ketertiban, tetapi juga membangun fondasi pendidikan yang mampu menumbuhkan tanggung jawab, kemandirian, dan sikap saling menghormati di kalangan peserta didik.

Kami berharap kegiatan ini menjadi penguatan bersama bagi seluruh GTK untuk terus menjaga keteladanan, meningkatkan kepedulian, dan membangun budaya positif secara berkelanjutan. Dengan komitmen bersama, SMAN 1 Kuala dapat terus menghadirkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik,” pungkas Nurul Aini.