Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bupati dan Wakil Bupati Bireuen Uji Coba Meriam Bambu, Festival Toet Budee Trieng Semarakkan HUT ke-27

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 20:24 WIB Last Updated 2026-10-10T13:24:25Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen – Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, S.T., bersama Wakil Bupati Ir. H. Razuardi, M.T., membuka Festival Toet Budee Trieng Piala Bupati Bireuen yang berlangsung meriah di Lapangan Paya Kareung, Kecamatan Peusangan, Sabtu (10/10/2026) siang.

Pembukaan festival permainan tradisional masyarakat Aceh tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini diselenggarakan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bireuen.

Suasana lapangan tampak semarak dengan kehadiran peserta dari 17 kecamatan yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Masing-masing kelompok membawa meriam bambu andalan untuk dipertandingkan, sekaligus memperkenalkan kembali salah satu tradisi masyarakat Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Setelah membuka kegiatan, Bupati Mukhlis bersama Wakil Bupati Razuardi langsung menuju lapangan untuk melakukan uji coba meriam bambu. Keduanya mencoba membunyikan alat permainan tradisional tersebut di hadapan peserta dan masyarakat yang hadir.

Momen tersebut menambah semangat para peserta yang telah mempersiapkan kelompok masing-masing untuk mengikuti pertandingan memperebutkan Piala Bupati Bireuen.

Setelah uji coba oleh kedua pimpinan daerah, perlombaan dilanjutkan dengan penampilan setiap kelompok peserta. Dewan juri melakukan penilaian secara bergiliran, dengan memberikan waktu selama 10 menit kepada masing-masing grup untuk menampilkan kemampuan dan menghasilkan suara letusan meriam bambu sesuai ketentuan festival.

Setiap kelompok tidak hanya dituntut menghasilkan suara letusan yang baik, tetapi juga memperhatikan teknik permainan, konsep penyajian, identitas kebudayaan melalui kostum, serta estetika dekorasi yang ditampilkan di lokasi masing-masing.

Bupati Mukhlis mengatakan, Festival Toet Budee Trieng merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam melestarikan sekaligus menggali kembali tradisi dan budaya Aceh yang mulai jarang dijumpai di tengah masyarakat.

Menurutnya, pelestarian budaya lokal perlu terus dilakukan agar berbagai tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Melalui kegiatan seperti ini, pemerintah daerah ingin memberikan ruang kepada masyarakat untuk kembali mengenal, memainkan, dan menghargai warisan budaya yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu.

Mukhlis juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Bireuen berencana terus mengangkat berbagai kegiatan seni dan budaya lokal lainnya. Salah satunya tradisi Meurukon serta berbagai festival adat yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan kebudayaan bagi masyarakat Aceh.

Ia berharap kegiatan pelestarian budaya dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga dapat menyaksikan dan terlibat langsung dalam kegiatan yang memperkenalkan tradisi daerah.

Dengan demikian, peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen tidak hanya menjadi momentum perayaan hari jadi daerah, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan lokal.

DKA: Melestarikan Tradisi dan Memberikan Ruang Ekspresi Budaya

Sebelumnya, Dewan Pakar DKA Bireuen, H. Yusri, S.Sos., dalam laporannya menjelaskan bahwa Festival Toet Budee Trieng bertujuan melestarikan nilai-nilai tradisi budaya lokal takbenda, khususnya permainan meriam bambu yang dikenal masyarakat Aceh.

Selain menjadi sarana pelestarian budaya, festival tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan ruang ekspresi budaya yang positif bagi masyarakat, sekaligus menampilkan kreativitas dan nilai estetika dalam penyajian permainan tradisional.

Menurut Yusri, pelaksanaan festival dirancang dengan sejumlah ketentuan teknis yang harus dipatuhi seluruh peserta. Pertandingan menggunakan sistem gugur dalam satu babak. Setiap kelompok diperkenankan membawa tiga meriam bambu utama dan satu unit cadangan.

Meriam bambu yang digunakan harus memenuhi spesifikasi berupa diameter bambu alam antara 10 hingga 15 sentimeter, dengan panjang berkisar 1,5 sampai 2,5 meter.

Panitia juga memberlakukan larangan keras terhadap penggunaan bahan kimia karbit. Ketentuan tersebut diterapkan untuk menjaga orisinalitas suara tradisional meriam bambu sekaligus memperhatikan keselamatan selama kegiatan berlangsung.

Aspek penilaian dilakukan oleh dewan juri yang kompeten di bidangnya. Sejumlah parameter penilaian meliputi teknik memainkan alat dan atraksi kelompok, kualitas suara letusan selama waktu penampilan 10 menit, konsep penyajian, keselarasan kostum atau identitas kebudayaan, serta estetika dekorasi lokasi masing-masing peserta.

Ketentuan tersebut diharapkan dapat mendorong setiap kelompok untuk menampilkan kreativitas terbaik, tanpa meninggalkan karakter tradisional yang menjadi ciri khas permainan Toet Budee Trieng.

Dalam festival tersebut, seluruh peserta memperebutkan Piala Bupati Bireuen dengan total alokasi hadiah mencapai Rp26 juta.

Hadiah disediakan bagi juara pertama, kedua, dan ketiga, serta juara harapan pertama, kedua, dan ketiga. Sementara itu, 11 kelompok peserta lainnya mendapatkan subsidi pembinaan masing-masing sebesar Rp1 juta.

Yusri berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda kebudayaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga keberadaan permainan tradisional agar tetap dikenal dan diminati oleh generasi berikutnya.

Diikuti Peserta dari 17 Kecamatan

Festival Toet Budee Trieng Piala Bupati Bireuen diikuti kelompok K3S/MKKS dari seluruh 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Peserta yang mengikuti perlombaan terdiri atas K3S/MKKS Jeumpa, Jangka, Pandrah, Jeunieb, Samalanga, Peusangan Selatan, Kota Juang, Peulimbang, Kutablang, Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, Gandapura, Makmur, Peudada, Juli, Kuala, dan Simpang Mamplam.

Keterlibatan peserta dari seluruh kecamatan tersebut memperlihatkan antusiasme berbagai unsur masyarakat dalam memeriahkan peringatan hari jadi Kabupaten Bireuen melalui kegiatan berbasis seni dan budaya tradisional.

Selain menjadi ajang perlombaan, festival ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempererat kebersamaan, membangun semangat partisipasi, serta memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada masyarakat luas.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, para asisten dan kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), anggota DPRK Bireuen, Ketua TP-PKK, Ketua BKMT, serta sejumlah undangan lainnya.

Melalui Festival Toet Budee Trieng, Pemerintah Kabupaten Bireuen berharap warisan budaya lokal dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Semangat pelestarian tersebut diharapkan tidak berhenti pada momentum HUT ke-27, tetapi berlanjut melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan tradisi masyarakat di masa mendatang.