Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Banyak Guru Merasa Kewalahan dengan Aplikasi dan Akhirnya Siswa Jadi Korban

Jumat, 07 Juni 2024 | 20:39 WIB Last Updated 2024-06-07T13:39:52Z

Banyak Guru Merasa Kewalahan dengan Aplikasi dan Akhirnya Siswa Jadi Korban
Foto ilustrasi ketika guru disibukkan dengan aplikasi



Detikacehnews.id | Artikel - Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi pendidikan telah mengalami perkembangan pesat, dengan berbagai aplikasi dan platform digital diperkenalkan untuk mendukung proses belajar-mengajar. Namun, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, banyak guru mengaku merasa kewalahan dengan kehadiran aplikasi-aplikasi ini, dan dampaknya seringkali dirasakan oleh siswa.


Para guru, yang sebelumnya terbiasa dengan metode pengajaran tradisional, kini harus beradaptasi dengan berbagai aplikasi baru yang terus diperbarui dan dikembangkan. Mulai dari aplikasi untuk penilaian, perencanaan pelajaran, hingga komunikasi dengan orang tua siswa, semuanya membutuhkan waktu dan energi tambahan untuk dikuasai. Banyak dari mereka merasa terbebani dengan keharusan untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi terbaru, yang kadang-kadang berubah lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk beradaptasi.


Salah satu masalah utama yang dihadapi para guru adalah kurangnya pelatihan yang memadai dalam menggunakan aplikasi-aplikasi ini. Banyak sekolah yang tidak menyediakan pelatihan khusus atau dukungan teknis yang cukup, sehingga guru harus belajar sendiri melalui trial and error. Ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga bisa menyebabkan frustrasi dan stres.


Ketika guru merasa kewalahan, kualitas pengajaran bisa terpengaruh. Guru yang stress dan kehabisan waktu cenderung kurang fokus pada kebutuhan individual siswa dan lebih fokus pada bagaimana mengoperasikan aplikasi dengan benar. Akibatnya, siswa bisa menjadi korban dari situasi ini. Mereka mungkin tidak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang mereka butuhkan, atau bahkan mengalami keterlambatan dalam menerima umpan balik atas pekerjaan mereka.


Selain itu, ketergantungan pada teknologi juga bisa menciptakan ketidaksetaraan di antara siswa. Mereka yang tidak memiliki akses ke perangkat atau internet di rumah bisa tertinggal dari teman-temannya yang lebih beruntung. Hal ini memperbesar kesenjangan pendidikan, yang seharusnya diminimalisir dengan adanya teknologi.


Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan solusi yang terintegrasi. Pemerintah dan pihak sekolah harus berkolaborasi untuk menyediakan pelatihan yang memadai bagi guru, serta memastikan bahwa aplikasi yang digunakan benar-benar efektif dan mudah dioperasikan. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan beban kerja guru dan memberikan dukungan yang cukup, baik dalam bentuk waktu tambahan maupun bantuan teknis.


Penting juga untuk mempertimbangkan kesejahteraan guru dalam perencanaan kebijakan pendidikan. Guru yang merasa didukung dan tidak kewalahan akan lebih mampu memberikan pengajaran yang berkualitas kepada siswa. Dengan demikian, teknologi bisa benar-benar menjadi alat yang mempermudah dan meningkatkan proses belajar-mengajar, bukan sebaliknya.


Teknologi pendidikan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi implementasinya harus dilakukan dengan hati-hati. Guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan, dan jika mereka merasa kewalahan, dampaknya akan dirasakan oleh siswa. Oleh karena itu, pelatihan yang memadai, dukungan yang cukup, dan kebijakan yang mempertimbangkan beban kerja guru sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak yang terlibat.