Detikacehnews.id | Bireuen – Kepala Bagian Kerja Sama Internasional dan Relasi Global Universitas Almuslim, Dr. Diana, MA, bersama Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen, serta Tim Satgas Siaga Bencana Gabungan Kabupaten Bireuen, turut berkecimpung langsung dalam kegiatan pendampingan trauma healing bagi anak-anak dan kelompok rentan di lokasi pengungsian Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, Sabtu (20/12/2025) pagi.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen. Dr. Diana yang juga tergabung sebagai anggota Tim Satgas Siaga Bencana menjalankan peran dalam pendampingan spiritual dan psikososial, dengan memberikan penguatan mental serta rasa aman bagi masyarakat terdampak, khususnya anak-anak.
Dalam pelaksanaannya, Dr. Diana bergabung bersama Tim Psikiater dan Psikolog, yang dikoordinasikan oleh Kepala SMF UPIP RSUD dr. Fauziah Bireuen, dr. Rizal, yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim. Kegiatan ini turut melibatkan tenaga kesehatan lainnya serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Bireuen sebagai bentuk kolaborasi lintas profesi.
Di sela kegiatan, Dr. Diana menyampaikan bahwa pendampingan trauma healing merupakan kebutuhan penting bagi kelompok rentan dalam situasi pascabencana. Menurutnya, bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerugian secara fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis masyarakat.
“Trauma healing sangat diperlukan dalam kondisi pascabencana banjir di Kabupaten Bireuen, terutama bagi anak-anak yang secara psikologis masih sangat rentan. Oleh karena itu, pendekatan yang kami lakukan bersifat humanis, ramah anak, dan berbasis nilai-nilai lokal,” ujarnya.
Pendampingan trauma healing bagi anak-anak dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana namun bermakna, seperti bermain bersama, bernyanyi, serta penguatan nilai-nilai spiritual. Dr. Diana menekankan bahwa pendekatan spiritual memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan psikologis masyarakat Aceh.
“Kegiatan untuk anak-anak kami kemas dalam bentuk bermain sambil bernyanyi, dan yang paling utama adalah shalawat. Nilai-nilai spiritual tetap kami utamakan agar anak-anak merasa lebih tenang, aman, dan tidak larut dalam rasa takut akibat bencana yang mereka alami,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pengungsian tampak lebih hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak terlihat antusias dan aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Respons positif ini menjadi salah satu indikator awal bahwa pendampingan trauma healing memberikan dampak psikologis yang baik.
“Tadi kita melihat anak-anak sangat senang dan ceria. Ini menjadi tanda bahwa secara psikologis mereka mulai pulih. Harapannya, ke depan anak-anak tidak mengalami trauma berkepanjangan terhadap bencana ini,” tambah Dr. Diana.
Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan tersebut, Dr. Diana menegaskan komitmen Universitas Almuslim untuk terus hadir bersama masyarakat dalam situasi darurat maupun pemulihan pascabencana. Pendampingan psikososial dan spiritual, menurutnya, merupakan bagian penting dari upaya membangun kembali ketahanan mental masyarakat terdampak.
Di sela kegiatan, Dr. Diana menyampaikan bahwa pendampingan trauma healing merupakan kebutuhan penting bagi kelompok rentan dalam situasi pascabencana. Menurutnya, bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerugian secara fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis masyarakat.
“Trauma healing sangat diperlukan dalam kondisi pascabencana banjir di Kabupaten Bireuen, terutama bagi anak-anak yang secara psikologis masih sangat rentan. Oleh karena itu, pendekatan yang kami lakukan bersifat humanis, ramah anak, dan berbasis nilai-nilai lokal,” ujarnya.
Pendampingan trauma healing bagi anak-anak dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana namun bermakna, seperti bermain bersama, bernyanyi, serta penguatan nilai-nilai spiritual. Dr. Diana menekankan bahwa pendekatan spiritual memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan psikologis masyarakat Aceh.
“Kegiatan untuk anak-anak kami kemas dalam bentuk bermain sambil bernyanyi, dan yang paling utama adalah shalawat. Nilai-nilai spiritual tetap kami utamakan agar anak-anak merasa lebih tenang, aman, dan tidak larut dalam rasa takut akibat bencana yang mereka alami,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pengungsian tampak lebih hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak terlihat antusias dan aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Respons positif ini menjadi salah satu indikator awal bahwa pendampingan trauma healing memberikan dampak psikologis yang baik.
“Tadi kita melihat anak-anak sangat senang dan ceria. Ini menjadi tanda bahwa secara psikologis mereka mulai pulih. Harapannya, ke depan anak-anak tidak mengalami trauma berkepanjangan terhadap bencana ini,” tambah Dr. Diana.
Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan tersebut, Dr. Diana menegaskan komitmen Universitas Almuslim untuk terus hadir bersama masyarakat dalam situasi darurat maupun pemulihan pascabencana. Pendampingan psikososial dan spiritual, menurutnya, merupakan bagian penting dari upaya membangun kembali ketahanan mental masyarakat terdampak.

