Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

IDI Cabang Bireuen Gelar Seminar Kedokteran Bahas Deteksi Dini Kegawatan Pernapasan pada Anak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:43 WIB Last Updated 2026-10-10T11:43:53Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen menggelar seminar kedokteran bagi anggota IDI dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pelantikan Pengurus IDI Cabang Bireuen periode 2026–2029 di Aula Hotel Fajar Bireuen, Sabtu (10/10/2026).

Seminar yang dilaksanakan sebelum prosesi pelantikan tersebut mengangkat sejumlah materi terkait kegawatan pernapasan pada anak, mulai dari deteksi dini tanda-tanda perburukan kondisi pasien, pengenalan kondisi darurat pada saluran pernapasan atas, hingga penanganan awal dan peningkatan dukungan pernapasan pada anak.

Kegiatan ilmiah ini menjadi wadah bagi para dokter dan mahasiswa kedokteran untuk memperluas wawasan, memperbarui pengetahuan, serta meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pengenalan dini kondisi kegawatan pada pasien anak.

Pembahasan tersebut dinilai penting karena gangguan pernapasan pada anak dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tanda-tanda perburukan tidak dikenali dan ditangani secara tepat. Oleh sebab itu, kemampuan melakukan penilaian awal, mengenali tanda bahaya, serta menentukan langkah penanganan sesuai kondisi pasien merupakan bagian penting dalam pelayanan medis.

Seminar menghadirkan tiga pemateri dengan topik yang saling berkaitan, yakni dr. Julianti, M.Kes., Sp.A(K), dr. Rahmat Faradilla, Sp.THT-BKL., dan dr. Hulaimi, Sp.P. Jalannya kegiatan dipandu oleh moderator dr. Irike Ayumi, Sp.

Materi Pertama: Peran Sistem Peringatan Dini Kegawatan pada Anak

Materi pertama bertajuk “The Role of Pediatric Early Warning System in Mitigating Respiratory Failure in Children” disampaikan oleh dr. Julianti, M.Kes., Sp.A(K).

Materi ini membahas peran Pediatric Early Warning System (PEWS) atau sistem peringatan dini pediatrik dalam membantu tenaga kesehatan mengenali tanda-tanda perburukan kondisi anak sebelum berkembang menjadi gagal napas.

Dalam pelayanan kesehatan anak, perubahan kondisi klinis dapat terjadi secara bertahap maupun cepat. Karena itu, pemantauan kondisi pasien secara terstruktur diperlukan untuk membantu tenaga medis mengidentifikasi perubahan yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

PEWS merupakan pendekatan penilaian klinis yang menggunakan sejumlah parameter, seperti frekuensi pernapasan, denyut jantung, tingkat kesadaran, dan kondisi klinis lainnya sesuai sistem yang digunakan. Hasil penilaian tersebut dapat membantu tenaga kesehatan mengenali perubahan kondisi pasien dan menentukan kebutuhan evaluasi atau intervensi lebih lanjut.

Penerapan sistem peringatan dini juga mendukung komunikasi yang lebih terarah di antara tenaga medis ketika ditemukan tanda-tanda perburukan. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan perhatian lebih dapat segera memperoleh penilaian lanjutan dan penanganan sesuai tingkat kegawatannya.

Melalui materi ini, peserta diharapkan memahami bahwa deteksi dini tidak hanya bergantung pada pengamatan sesaat, tetapi juga memerlukan pemantauan berulang, penilaian klinis yang cermat, dan respons yang sesuai terhadap perubahan kondisi anak.

Penggunaan PEWS tetap perlu disesuaikan dengan protokol fasilitas pelayanan kesehatan dan tidak menggantikan penilaian klinis maupun tindakan segera apabila anak menunjukkan tanda kegawatan.

Materi Kedua: Mengenali Tanda Bahaya pada Kegawatan Saluran Pernapasan Atas Anak

Materi kedua berjudul “Pediatric Upper Airway Emergencies: Recognizing the Red Flags Before Respiratory Failure” disampaikan oleh dr. Rahmat Faradilla, Sp.THT-BKL.

Pembahasan ini berfokus pada kegawatan saluran pernapasan atas pada anak serta pentingnya mengenali tanda bahaya atau red flags sebelum kondisi berkembang menjadi gagal napas.

Saluran pernapasan atas memiliki peran penting dalam proses masuknya udara menuju paru-paru. Pada anak, gangguan pada bagian ini dapat menyebabkan penyempitan jalur udara dan menghambat pernapasan. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus karena gangguan yang awalnya tampak ringan dapat berkembang menjadi keadaan darurat, bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

Sejumlah tanda yang perlu diwaspadai dalam penilaian kegawatan saluran pernapasan atas antara lain suara napas tambahan seperti stridor, tarikan dinding dada, kesulitan bernapas, perubahan suara, kesulitan menelan, peningkatan produksi air liur yang disertai kesulitan menelan, serta perubahan warna kulit menjadi kebiruan. Tanda-tanda tersebut harus dinilai bersama kondisi umum pasien dan kemungkinan penyebab yang mendasarinya.

Pengenalan tanda bahaya secara dini membantu tenaga kesehatan menentukan tingkat kegawatan, kebutuhan pemantauan, serta langkah penanganan yang sesuai. Dalam kondisi tertentu, manipulasi saluran napas atau pemeriksaan yang tidak diperlukan dapat meningkatkan risiko pada pasien, sehingga pendekatan harus dilakukan dengan mempertimbangkan stabilitas klinis dan protokol kegawatdaruratan.

Materi ini juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan kondisi anak, terutama ketika gejala gangguan saluran pernapasan disertai tanda kesulitan bernapas atau penurunan kondisi umum.

Dengan pemahaman tersebut, dokter dan tenaga kesehatan diharapkan dapat melakukan pengenalan awal secara lebih cermat, mengidentifikasi pasien yang membutuhkan penanganan segera, serta mempertimbangkan konsultasi atau rujukan ke fasilitas yang memiliki kemampuan penanganan lanjutan apabila diperlukan.

Materi Ketiga: Pengenalan Dini dan Penanganan Awal Gagal Napas pada Anak

Materi ketiga bertajuk “Respiratory Failure in Children: Early Recognition, Initial Management and Escalation of Respiratory Support” disampaikan oleh dr. Hulaimi, Sp.P.

Materi ini mengulas pengenalan dini gagal napas pada anak, langkah-langkah penanganan awal, serta peningkatan dukungan pernapasan sesuai kebutuhan klinis pasien.

Gagal napas merupakan kondisi serius ketika sistem pernapasan tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh dan/atau membuang karbon dioksida secara memadai. Pada anak, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai gangguan, termasuk infeksi saluran pernapasan, obstruksi jalan napas, dan penyakit lain yang memengaruhi fungsi pernapasan.

Pengenalan dini menjadi langkah penting dalam penanganan karena perubahan pola napas, peningkatan usaha bernapas, perubahan tingkat kesadaran, dan tanda gangguan oksigenasi dapat menunjukkan bahwa kondisi pasien sedang memburuk.

Dalam penanganan awal, tenaga kesehatan perlu melakukan penilaian sistematis terhadap jalan napas, pernapasan, sirkulasi, tingkat kesadaran, serta kondisi umum pasien. Pemantauan saturasi oksigen dan parameter klinis lainnya juga membantu menilai tingkat keparahan dan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.

Dukungan pernapasan diberikan berdasarkan kebutuhan dan kondisi klinis pasien. Bentuknya dapat mencakup pemberian oksigen, dukungan pernapasan noninvasif, hingga ventilasi mekanis pada kondisi tertentu. Pemilihan metode harus mempertimbangkan penyebab gangguan, tingkat keparahan, respons terhadap penanganan awal, serta kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan.

Peningkatan dukungan pernapasan atau escalation of respiratory support diperlukan apabila intervensi awal tidak memberikan respons yang memadai atau kondisi pasien terus memburuk. Pada situasi tersebut, evaluasi ulang dan keterlibatan tim yang memiliki kompetensi penanganan kegawatdaruratan menjadi sangat penting.

Melalui materi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mengambil keputusan klinis secara tepat waktu, melakukan pemantauan berkelanjutan, dan mengenali kondisi yang memerlukan penanganan tingkat lanjut.

Ketiga materi tersebut saling melengkapi, mulai dari pemanfaatan sistem peringatan dini, pengenalan tanda bahaya pada saluran pernapasan atas, hingga penanganan awal dan peningkatan dukungan pernapasan pada anak. Rangkaian pembahasan ini memberikan perspektif menyeluruh mengenai upaya mengenali dan menangani kegawatan pernapasan secara sistematis.

Diskusi Interaktif dan Apresiasi kepada Pemateri

Setelah seluruh pemateri menyampaikan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendalami topik yang telah dipaparkan.

Melalui sesi tersebut, anggota IDI dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim dapat mengajukan pertanyaan serta berdiskusi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan pengenalan tanda kegawatan, penilaian klinis, dan prinsip penanganan gangguan pernapasan pada anak.

Diskusi interaktif menjadi bagian penting dalam kegiatan ilmiah karena memungkinkan peserta memperjelas pemahaman terhadap materi sekaligus memperkaya wawasan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman profesional.

Pada akhir sesi seminar, Ketua IDI Cabang Bireuen, dr. Zumirda, menyerahkan piagam penghargaan kepada para pemateri dan moderator sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Penghargaan diberikan kepada dr. Julianti, M.Kes., Sp.A(K), dr. Rahmat Faradilla, Sp.THT-BKL., dr. Hulaimi, Sp.P., serta moderator dr. Irike Ayumi.

Pelaksanaan seminar sebelum prosesi pelantikan pengurus IDI Cabang Bireuen periode 2026–2029 tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan pengembangan keilmuan dalam agenda organisasi profesi.

Melalui kegiatan ini, IDI Cabang Bireuen diharapkan terus menjadi wadah penguatan kompetensi, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan profesionalisme dokter, sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa kedokteran sebagai calon tenaga medis.

Penguatan pengetahuan dan keterampilan klinis yang didukung pembelajaran berkelanjutan diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya dalam pengenalan dini dan penanganan kegawatan pernapasan pada anak.