Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wakil Bupati Bireuen Buka Pekan Literasi Daerah 2026, Dorong Budaya Membaca dan Masyarakat Berdaya

Selasa, 06 Oktober 2026 | 21:07 WIB Last Updated 2026-10-06T14:31:37Z


 
Detikacehnews.id | Bireuen – Wakil Bupati Bireuen, Ir. Razuardi, M.T., membuka Pekan Literasi Daerah Kabupaten Bireuen Tahun 2026, Selasa (6/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bireuen tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam memperkuat budaya membaca sekaligus mendorong tumbuhnya kreativitas dan keberdayaan masyarakat melalui gerakan literasi.

Pekan Literasi Daerah tahun ini mengusung tema “Bireuen Membaca, Bireuen Berkarya dan Bireuen Berdaya.” Tema tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pembukaan kegiatan turut dihadiri Anggota DPRK Bireuen, sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Bireuen, Ketua Majelis Pendidikan Aceh (MPA) Kabupaten Bireuen, Bunda Literasi Kabupaten Bireuen, Bunda Literasi kabupaten/kota se-Aceh, Bunda Literasi Kecamatan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh beserta jajaran, kepala dinas perpustakaan dan kearsipan kabupaten/kota tetangga, unsur pendidikan, mahasiswa, siswa, pegiat literasi hingga para geuchik.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bireuen, Irfan, S.Pd., M.Pd., dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Pekan Literasi Daerah bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi sarana untuk memperkuat budaya membaca dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas literasi.

Menurutnya, literasi memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi secara tepat.

Ia menyebutkan, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Bireuen tahun 2026 tercatat sebesar 61. Pengukuran tersebut telah menyesuaikan parameter nasional yang mencakup lingkungan pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga masyarakat secara umum.

Capaian tersebut, kata Irfan, menjadi bagian dari gambaran perkembangan literasi masyarakat sekaligus tantangan yang perlu terus diperkuat melalui program-program perpustakaan dan literasi yang berkelanjutan.

Karena itu, dukungan pemerintah dinilai sangat penting agar berbagai program literasi tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

“Literasi harus menjadi gerakan bersama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat dan berbagai komunitas,” demikian substansi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Literasi di Era Digital

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Bireuen, Ny. Sadriah, mengapresiasi pelaksanaan Pekan Literasi Daerah Tahun 2026. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan sebagai ruang untuk memperkenalkan pentingnya literasi kepada masyarakat.

Menurutnya, pemaknaan literasi saat ini sudah semakin luas. Literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis, serta memilah informasi yang diterima masyarakat.

Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital dan media sosial yang memungkinkan masyarakat memperoleh informasi dengan sangat cepat.

Dalam kondisi tersebut, kemampuan untuk menyaring informasi menjadi bagian penting dari kecakapan literasi. Masyarakat perlu memiliki kemampuan membedakan informasi yang benar, keliru, maupun informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Sadriah juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun budaya literasi sejak dini. Menurutnya, orang tua dapat menjadi contoh pertama bagi anak dengan membiasakan membaca di lingkungan keluarga.

Selain itu, pendampingan terhadap anak dalam penggunaan gawai dan media sosial juga diperlukan agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara positif.

“Budaya membaca perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Keteladanan orang tua akan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan anak,” menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut.

Ia juga mendorong penguatan pojok baca serta perpustakaan desa sehingga masyarakat tidak harus selalu datang ke pusat kota untuk mendapatkan akses terhadap bahan bacaan dan sumber pengetahuan.

Keberadaan fasilitas literasi yang lebih dekat dengan masyarakat diharapkan dapat memperluas akses informasi sekaligus mendorong munculnya berbagai aktivitas membaca dan berkarya di tingkat desa.

Razuardi: Literasi Bagian dari Investasi SDM

Wakil Bupati Bireuen, Ir. Razuardi, M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, Bireuen membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, kemampuan beradaptasi dan kecakapan dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Dalam konteks tersebut, literasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk masyarakat yang mampu menghadapi berbagai perubahan.

Razuardi menjelaskan bahwa kemampuan literasi pada era digital tidak cukup hanya dengan mampu membaca dan menulis. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, menggunakan teknologi secara bijak, serta mampu membedakan informasi yang benar dan tidak benar.

Ia mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk terus memperluas jangkauan pelayanan sehingga keberadaan perpustakaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pengembangan perpustakaan keliling, kegiatan literasi di sekolah dan desa, pembentukan serta penguatan komunitas literasi, hingga pemanfaatan teknologi digital disebut sebagai sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat.

Menurutnya, perpustakaan tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi harus berkembang menjadi ruang belajar, ruang bertukar gagasan, sekaligus ruang masyarakat untuk mengembangkan kreativitas.

Razuardi menilai semakin kuat budaya membaca di tengah masyarakat, maka semakin besar pula peluang tumbuhnya pengetahuan dan kreativitas yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap keberdayaan masyarakat.

“Kalau budaya membaca tumbuh, maka pengetahuan tumbuh. Ketika pengetahuan tumbuh, masyarakat akan semakin mampu berkarya dan berdaya. Inilah investasi jangka panjang bagi masa depan Bireuen,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus mempertegas makna tema Pekan Literasi Daerah Tahun 2026, yakni membangun keterkaitan antara kebiasaan membaca, kemampuan berkarya dan keberdayaan masyarakat.

Diisi Beragam Kegiatan Literasi

Pekan Literasi Daerah Kabupaten Bireuen Tahun 2026 tidak hanya diisi dengan kegiatan pembukaan, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas yang melibatkan pelajar, mahasiswa, pegiat literasi dan masyarakat.

Sejumlah kegiatan yang digelar antara lain talkshow literasi, storytelling, pameran literasi, serta pengumuman dan penyerahan hadiah kepada para pemenang berbagai perlombaan.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas sekaligus memperkenalkan berbagai aktivitas literasi yang berkembang di Kabupaten Bireuen.

Suasana kegiatan juga semakin meriah dengan penampilan marching band dan tarian kreasi.

Setelah pembukaan Pekan Literasi Daerah, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan Festival Literasi Kabupaten Bireuen Tahun 2026.

Pembukaan festival ditandai dengan pemotongan pita oleh Bunda Literasi Kabupaten Bireuen bersama Ketua BKMT dan Bunda Literasi Kabupaten/Kota se-Aceh.

Para tamu kemudian melakukan peninjauan ke sejumlah stan perpustakaan yang menjadi bagian dari rangkaian festival.

Kehadiran berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Sekolah, keluarga, pemerintah desa, komunitas, perguruan tinggi hingga pemerintah daerah memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca.

Melalui Pekan Literasi Daerah 2026, Pemerintah Kabupaten Bireuen berharap budaya membaca tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah dan perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan semakin luasnya akses terhadap bahan bacaan dan informasi, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan kreativitas, menghasilkan karya, serta meningkatkan kapasitas diri.

Pada akhirnya, gerakan tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya masyarakat Bireuen yang semakin cerdas, kreatif dan berdaya, sejalan dengan semangat pembangunan daerah.

Pekan Literasi Daerah Kabupaten Bireuen Tahun 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian kegiatan dalam momentum HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, tetapi menjadi penguat gerakan literasi yang terus tumbuh dan berkelanjutan di tengah masyarakat.

Bireuen membaca, Bireuen berkarya, dan Bireuen berdaya.